Ini video perburuan jamur ulat Himalaya, bukan warga Israel melarikan diri dari serangan Iran

Puluhan orang telah tewas akibat serangan Iran ke Israel yang dilakukan untuk membalas gempuran koalisi Amerika Serikat (AS) dan Israel di akhir Februari. Namun, video kerumunan orang berlarian di lereng perbukitan tidak menunjukkan warga Israel yang melarikan diri dari serangan Iran seperti diklaim postingan media sosial. Faktanya, rekaman diambil pada Mei 2025 dan menunjukkan rutinitas tahunan orang-orang memburu jamur ulat tanah di Himalaya. 

"Momen Rakyat Isr*el Melarikan Diri Setelah Iran Terus Membombardir," tulis teks pada video yang diunggah  di Instagram pada 10 Maret 2026.

"Warga Israel yang tidak mampu membeli tiket pesawat meninggalkan rumah mereka dan melarikan diri menuju pegunungan. Eksodus massal melanda negara itu di tengah meningkatnya konflik dan kekacauan. Keluarga-keluarga meninggalkan kota demi keselamatan, keputusasaan meningkat seiring dengan semakin sedikitnya pilihan yang tersedia," tulis keterangan dalam unggahan itu. 

Video itu menayangkan ratusan orang yang tampak berlarian di lereng perbukitan yang curam.

Image
Tangkapan layar video dari postingan salah, diambil pada 17 Maret 2026, dengan tanda silang merah yang telah ditambahkan oleh AFP

Postingan serupa juga beredar dalam bahasa Myanmar, Thailand dan Spanyol seiring Iran melancarkan rentetan serangan rudal ke Israel sebagai balas dendam atas gempuran AS-Israel pada tanggal 28 Februari 2026 (tautan arsip).

Pada 8 Maret, Kementerian Kesehatan Iran melaporkan bahwa lebih dari 1.200 orang telah tewas di Iran sejak serangan AS-Iran -- angka ini belum bisa dikonfirmasi langsung oleh AFP  (tautan arsip). Sementara itu, otoritas Israel melaporkan 14 warganya meninggal akibat terkena hantaman rudal atau puing-puing yang berjatuhan.

Namun,  video itu sudah beredar sejak sebelum perang di Iran terjadi. Sebelumnya, AFP juga pernah menyanggah postingan yang membagikan video tersebut saat terjadi perang 12 hari antara Israel dan Iran pada tahun 2025.

Kombinasi pencarian gambar terbalik dan kata kunci menemukan video asli di sebuah unggahan di halaman Facebook bernama Dolpa pada 29 Mei 2025 (tautan arsip).

Postingan yang diunggah dalam bahasa Nepal itu berbunyi: "orang-orang mengumpulkan yarchagumba, Rup Patan, Distrik Dolpa." Dalam video tersebut juga terdengar seorang pria yang mengatakan "sudah dibuka" dalam bahasa Nepal.

Yarsagumba, yang juga disebut Jamur Ulat Cina, dan dijuluki "viagra Himalaya",  merupakan salah satu obat tradisional Tiongkok yang paling berharga, dan harganya di Tiongkok bisa mencapai hingga tiga kali lipat harga emas (tautan arsip). 

Jamur tersebut diklasifikasikan sebagai spesies rentan dalam daftar merah Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) (tautan arsip).

Image
Perbandingan tangkapan layar antara video dari postingan salah (kiri) dan video asli yang diunggah di Facebook tahun 2025 (kanan)

Setiap tahun, antara bulan Mei dan Juni, ribuan warga desa di Nepal dan Tibet mendaki lereng Himalaya untuk mengumpulkan jamur parasit yang tumbuh pada tubuh ulat (tautan arsip).

Pemilik akun Facebook yang pertama kali membagikan video tersebut, Pradip Shahi, mengatakan kepada AFP pada 11 Maret 2026 bahwa rekaman itu diambil pada 27 Mei 2025 saat musim panen tahunan.

Dia juga membagikan kepada AFP lokasi panen Yarsagumba yang berada di Nepal (tautan arsip).

Sebelumnya, AFP telah menyanggah berbagai misinformasi terkait perang di Timur Tengah.

Adakah konten yang Anda ingin AFP periksa faktanya?

Hubungi kami