Foto serigala lepas dari kebun binatang Korea Selatan ini buatan AI
- Diterbitkan pada hari 20/04/2026 pukul 09:14
- Waktu baca 4 menit
- Oleh: Grace MOON, AFP Korea Selatan
- Terjemahan dan adaptasi AFP Indonesia
Korea Selatan mengerahkan ratusan petugas serta drone dan juga kamera termal untuk menemukan seekor serigala yang kabur dari sebuah kebun binatang pada 8 April 2026. Beberapa jam setelah insiden itu, beredar sebuah foto yang diklaim menunjukkan serigala tersebut melewati persimpangan jalan di Kota Daejeon. Foto itu bahkan digunakan oleh media lokal dan kantor pemerintah setempat. Namun, analisis visual yang dilakukan oleh AFP mendapati bahwa foto itu dibuat menggunakan teknologi akal imitasi (AI); temuan AFP ini didukung oleh ahli dan pihak berwenang di Negeri Ginseng itu.
"Ada serigala umur 1thn kabur dari Daejeon Zoo. Semoga balik lagi ," tulis keterangan foto yang diunggah di X pada 8 April 2026.
Foto tersebut menunjukkan seekor serigala berwarna coklat muda berjalan melewati persimpangan di Daejeon, sebuah kota yang terletak sekitar 150 kilometer dari kota Seoul di bagian selatan.
Postingan serupa juga beredar di Facebook seiring pencarian besar-besaran yang dilakukan pihak berwenang Korea Selatan untuk menemukan serigala jantan bernama Neukgu tersebut.
Neukgu berhasil kabur setelah menggali terowongan dari kandangnya di kebun binatang O-World pada pagi hari 8 April (tautan arsip).
Kaburnya Neukgu memicu penutupan sebuah sekolah dasar di area sekitar kebun binatang keesokan harinya (tautan arsip). Pihak berwenang mengerahkan ratusan petugas pemadam kebakaran, polisi dan tentara serta menggunakan drone dan kamera termal untuk menemukan serigala tersebut.
Sejumlah media di Korea Selatan juga ikut membagikan foto serigala itu pada 8 April (tautan arsip di sini dan sini). AFP sempat mendistribusikan foto tersebut sebelum akhirnya menariknya kembali.
Pemerintah Kota Daejeon juga membagikan foto tersebut di akun X milik mereka beberapa jam setelah Neukgu dilaporkan hilang.
"Operasi pencarian dan penangkapan tengah berlangsung," tulis keterangan dalam unggahan akun pemerintah Daejeon, yang meminta warga untuk "berhati-hati."
Pihak berwenang kota juga mengirimkan pesan peringatan darurat berbunyi: "Telah terkonfirmasi bahwa serigala yang kabur dari O-World pagi ini bergerak menuju persimpangan O-World" (tautan arsip).
Namun, hasil analisis visual yang dilakukan oleh AFP dan seorang ahli di bidang AI mengindikasikan bahwa foto yang beredar tersebut bukanlah foto asli.
"Foto tersebut tampaknya telah dimanipulasi dengan teknologi AI," ujar Howard Kim, seorang profesor di bidang teknologi konvergensi AI di Seoul Cyber University, pada 14 April (tautan arsip).
Ia menambahkan bahwa kasus tersebut "mendemonstrasikan bagaimana penggunaan teknologi generatif AI yang masif dapat menimbulkan ancaman tak terlihat bagi sistem respons pengamanan publik."
Foto buatan AI
Alat pendeteksi AI Hive Moderation menganalisis foto serigala tersebut "kemungkinan mengandung konten buatan AI atau deepfake."
Dengan menggunakan Naver Maps -- sebuah aplikasi navigasi lokal Korea Selatan -- AFP melakukan geolokasi untuk mencocokkan lokasi foto yang beredar dengan area perempatan jalan di bagian selatan pusat Kota Daejeon (tautan arsip).
Hasilnya, tampilan jalan yang ditunjukkan aplikasi Naver Maps cocok dengan foto yang beredar di postingan salah. Misalnya, tampilan Naver Maps dan foto yang beredar menampilkan restoran belut bakar yang sama di depan zebra cross.
Pada 11 April, seorang fotografer AFP mengambil foto terbaru dari persimpangan yang berjarak sekitar 2,3 kilometer dari kebun binatang O-World tersebut.
Terdapat sejumlah perbedaan antara foto yang diambil AFP dan foto yang beredar di postingan salah:
- Penempatan tanda panah, serta panjang dan posisi garis putus-putus berwarna putih pada jalanan merah
- Garis biru di jalur paling kanan dalam foto AFP, yang muncul dalam warna putih pada foto buatan AI
- Sejumlah landmark di foto AFP, seperti jaringan listrik dan salib di atas sebuah gedung, tampak kabur dalam foto di postingan salah yang beredar
Kim, profesor dari Seoul Cyber University, menunjukkan sejumlah kejanggalan lain, seperti teks pada rambu lalu lintas yang terdistorsi dan papan penunjuk jalan yang buram. Sudut pandang gedung di bagian belakang juga tampak terkompresi secara tidak wajar.
Kejanggalan semacam itu "bukanlah karakteristik alat pengedit gambar AI yang ada di telepon pintar, yang biasanya hanya memasukan objek ke dalam foto asli," ujar Kim.
"Temuan ini mengindikasikan bahwa foto tersebut dibuat oleh sistem AI generatif, atau direkonstruksi dari sumber-sumber seperti citra tampilan jalan, dan tidak dibuat dari foto asli."
Bagaimana gambar tersebut beredar
Pencarian gambar terbalik pada Google menemukan beberapa versi dari visual palsu tersebut pertama kali beredar di sejumlah platform media sosial dan ranah internet lainnya pada 8 April, misalnya di sebuah komunitas ibu di platform Naver.
Juru bicara Markas Pusat Pemadam Kebakaran Daejeon mengatakan kepada AFP pada 15 April bahwa pihak berwenang pertama kali mendapatkan foto tersebut dari seorang pegawai di Kantor Lingkungan Cekungan Geumgang, sebuah lembaga di bawah kementerian lingkungan yang berbasis di Daejeon.
Pegawai tersebut membagikan foto itu melalui KakaoTalk, platform pengiriman pesan di Korea Selatan, pada pukul 13.26 -- tiga menit sebelum otoritas kota mengirimkan pesan peringatan darurat.
Kantor Lingkungan Cekungan Geumgang menolak untuk berkomentar saat dihubungi oleh AFP.
Seorang juru bicara dari Daejeon Metropolitan City mengatakan kepada AFP pada 13 April bahwa saat menerima foto tersebut, "yang menjadi prioritas adalah mengirimkan pihak berwenang menuju lokasi dan memverifikasi situasi di sana".
"Mengingat kedaruratan situasi, tidak ada alasan bagi kami saat itu untuk menganalisis apakah gambar tersebut hasil AI atau bukan," ungkapnya, seraya menambahkan bahwa asusmsi seperti itu dapat menimbulkan "penundaan lebih lanjut."
Pihak Kota Daejeon, kantor pemadam kebakaran dan kepolisian semuanya mengonfirmasi kepada AFP antara tanggal 13 dan 15 April bahwa visual tersebut kemungkinan adalah gambar sintetis yang dibuat menggunakan AI.
Sebelumnya, AFP juga telah menyanggah sejumlah misinformasi lain yang melibatkan konten buatan AI di sini.
Hak Cipta © AFP 2017-2026. Segala jenis penggunaan konten secara komersial harus melalui langganan. Klik di sini untuk lebih lanjut.
Adakah konten yang Anda ingin AFP periksa faktanya?
Hubungi kami