Gempa bumi di Venezuela munculkan kembali klaim salah terkait HAARP
- Diterbitkan pada hari 07/07/2026 pukul 11:41
- Waktu baca 4 menit
- Oleh: AFP Amerika Serikat
- Terjemahan dan adaptasi AFP Indonesia
Krisis kemanusiaan melanda Venezuela setelah dua gempa dahsyat mengguncang negara tersebut pada 24 Juni 2026, yang menewaskan ribuan orang dan menghancurkan banyak bangunan. Menyusul gempa tersebut, sejumlah postingan media sosial membagikan video lama yang menampilkan sinar laser merah dan mengeklaim bahwa bencana tersebut disebabkan oleh Program Penelitian Auroral Aktif Frekuensi Tinggi (HAARP) yang dijalankan oleh Amerika Serikat (AS) di negara bagian Alaska. Faktanya, klip tersebut telah beredar sebelum gempa Venezuela, dan para ahli mengatakan kepada AFP bahwa kekuatan laser tidak dapat memicu gempa bumi seperti yang terjadi di Venezuela.
"Beredar sebuah kabar mengerikan dibalik kejadian gempa bumi dahsyat yang melanda Venezuela beberapa waktu yang lalu,dikabarkan setidaknya 15 menit sebelum kejadian gempa itu banyak penduduk menyaksikan kejadian aneh diatas langit Venezuela,seperti sinar laser yang terus bergerak yang seolah memetakan titik retakan bumi sebelum akhirnya diledakkan," tulis penggalan keterangan video dalam unggahan Facebook tanggal 29 Juni 2026.
"Banyak yang menyebut ini adalah sinar laser dari senjata rahasia dan program HAARP yang sengaja diciptakan.Kalau menurut kalian bagaimana gaes ?" lanjut keterangan postingan.
Teks pada video tersebut berbunyi, "Ada Seperti Ini Sebelum Gempa, Senjata Rahasia Dibalik Gempa Venezuela".
Video dengan klaim serupa juga beredar di TikTok dan muncul dalam berbagai bahasa, termasuk Inggris dan Spanyol.
Postingan-postingan ini muncul setelah dua gempa dahsyat melanda Venezuela pada 24 Juni. Satu dari gempa tersebut merupakan yang terkuat yang pernah melanda negara itu dalam satu abad terakhir. Bencana ini meluluhlantakan tempat tinggal warga dan menyebabkan puluhan ribu orang hilang (tautan arsip di sini dan sini).
HAARP yang disebut pada klaim yang beredar adalah stasiun penelitian yang menggunakan pemancar gelombang frekuensi tinggi terkuat di dunia untuk mempelajari aktivitas di wilayah tertinggi di atmosfer (tautan arsip). University of Alaska Fairbanks telah menjalankan program tersebut sejak 2015 dan menerimanya dari Angkatan Udara AS.
AFP telah berulang kali menyanggah disinformasi yang beredar daring yang menggaungkan teori konspirasi terkait aktivitas HAARP dalam memanipulasi cuaca atau menyebabkan gempa, kebakaran hutan, badai dan sejumlah bencana alam ekstrem lainnya.
Namun, para ahli mengatakan tidak ada kekuatan laser yang dapat menyebabkan bencana alam dahsyat seperti yang terjadi di Venezuela. Lokasi tempat program HAARP beroperasi pun jaraknya ribuan mil dari episenter gempa Venezuela.
"Fasilitas kami tidak dapat menghasilkan atau memperkuat peristiwa cuaca atau menyebabkan atau memperkuat gempa," ujar direktur HAARP Jessica Matthews kepada AFP pada 1 Juli. "Peralatan penelitian kami memancarkan gelombang radio dalam frekuensi yang tidak dapat diserap oleh lapisan atmosfer yang bertanggung jawab atas cuaca di Bumi."
Selain itu, video laser merah di langit yang beredar luas di sejumlah platform media sosial itu sudah muncul sebelum gempa di Venezuela terjadi dan merupakan hasil rekayasa.
Video lama
Pencarian gambar terbalik menemukan klip serupa yang berkaitan dengan HAARP dibagikan di TikTok pada 18 Maret, atau beberapa bulan sebelum gempa melanda Venezuela (tautan arsip di sini dan sini).
Akun TikTok tersebut memuat sejumlah video sinar laser merah yang diunggah dengan jarak beberapa bulan tanpa menyebutkan lokasi di mana video tersebut diambil.
Sebuah blog yang linknya tertera pada bio akun tersebut menyebutkan keterangan bahwa kontennya "tidak ada yang ditampilkan sebagai fakta atau teori".
David Hysell, professor bidang teknik dari Departemen Ilmu Bumi dan Atmosfer di Cornell University, mengatakan "efek HAARP cukup halus dan membutuhkan instrumen yang sensitif untuk dapat mendeteksinya" (tautan arsip).
Efek tersebut "tentu tidak mencakup cahaya lampu disko seperti dalam video yang Anda tunjukkan kepada saya, yang tampaknya telah ditambahkan oleh seseorang dengan imajinasinya," kata Hysell kepada AFP pada 30 Juni.
Judith Hubbard, seorang ilmuwan gempa bumi dan asisten profesor tamu di Cornell University, menambahkan pada 30 Juni bahwa video-video yang beredar "menunjukkan pemandangan saat malam hari, namun gempa sendiri terjadi sebelum matahari terbenam" (tautan arsip).
Gempa pertama, yang berkekuatan 7,2 magnitudo, terjadi pada pukul 18:04 waktu setempat (10:04 GMT), di sebelah tenggara Yumare (tautan arsip). Gempa terjadi akibat bergesernya sesar dangkal di dekat batas lempeng antara Lempeng Karibia dan Lempeng Amerika Selatan, menurut Survei Geologi Amerika Serikat (USGS).
Sementara itu, gempa kedua, yang berkekuatan lebih besar yaitu 7,5 magnitudo, terjadi kurang dari satu menit setelah gempa pertama dan mengguncang wilayah utara ibu kota Caracas (tautan arsip).
Sinar laser terlalu lemah
Yihe Huang, seorang profesor madya dalam bidang geofisika di University of Michigan, mengatakan kepada AFP pada 30 Juni bahwa "tidak mungkin secara fisik sinar laser dapat mengakibatkan gempa besar" mengingat gempa bumi sendiri bermula jauh di dalam kerak bumi (tautan arsip).
"Tekanan yang dihasilkan dari sinar laser terlalu kecil," kata Huang.
Hubbard mengatakan hal serupa: "Gempa bumi merupakan peristiwa alam dan bermula pada kedalamam 10 hingga 20 kilometer, dan tidak mungkin bisa memicu gempa dengan sinar laser."
Walapun cahaya gempa bumi -- yakni sinar dan kilauan yang kadang-kadang dilaporkan muncul di sejumlah peristiwa gempa -- dapat terjadi saat peristiwa alam tersebut berlangsung, fenomena itu tidak terlalu sering terjadi seperti yang orang bayangkan, menurut ilmuwan sekaligus juru bicara USGS Steven Sobieszczyk (tautan arsip di sini dan sini).
Sejumlah laporan terkait fenomena tersebut ternyata berkaitan dengan busur api listrik pada kabel tegangan tinggi(tautan arsip).
"Seringkali, getaran gempa bumi merusak distribusi listrik atau infrastruktur lain yang lalu menimbulkan kilatan, busur api listrik, atau ledakan (sama seperti jika kamu pernah melihat trafo yang meledak)," tulis Sobieszczyk kepada AFP pada 30 Juni. "Karena kerusakan yang timbul akibat gempa bumi cukup luas, penyebaran kilatan/ledakan juga dapat meluas dan banyak."
"Apa yang terlihat dalam video bukanlah cahaya gempa bumi ataupun ledakan trafo," tambahnya.
AFP telah menyanggah misinformasi lain yang menghubungkan gempa bumi Turki dengan HAARP di sini.
Hak Cipta © AFP 2017-2026. Segala jenis penggunaan konten secara komersial harus melalui langganan. Klik di sini untuk lebih lanjut.
Adakah konten yang Anda ingin AFP periksa faktanya?
Hubungi kami