Seorang karyawan bekerja di lini produksi vaksin Covid-19 di PT Bio Farma di Bandung pada tanggal 12 Agustus 2020. (AFP / Bay Ismoyo)

Pernyataan dokter anti-vaksin dari Italia yang tidak valid tentang Covid-19 beredar luas secara daring

Hak cipta AFP 2017-2021. Hak cipta dilindungi undang-undang.

Sebuah video yang telah ditonton ribuan kali di berbagai unggahan di Facebook yang menampilkan dokter asal Italia bernama Roberto Petrella dengan berbagai klaim, seperti Covid-19 merupakan nama sebuah rencana untuk mengurangi populasi dunia dan vaksin melemahkan imunitas seseorang. Sebagian besar klaim-klaim tersebut tidak benar atau menyesatkan.

Salah satu video itu diunggah di Facebook di sini pada tanggal 9 September 2020 dan telah ditonton lebih dari 280 kali. 

Video berdurasi enam menit dan 52 detik itu memperlihatkan seorang pria berjas dokter yang menjelaskan beberapa hal mengenai Covid-19 dalam bahasa Italia. Video itu juga memiliki subtitle dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. 

Tangkapan layar unggahan menyesatkan, diambil pada tanggal 1 Desember 2020

Sebagian status video itu berbunyi: “Dr. Roberto Petrella dari Italia ‘Kopit bukan nama virus’

“Dokter Petrella adalah pensiunan ginekolog dari Teramo di Italia yang telah menimbulkan kontroversi atas pandangan Covid 19-nya. Petrella dikeluarkan dari Order of Doctors setelah pensiun karena pandangannya seputar vaksin HPV yang dianggapnya tidak efektif dan dalam beberapa kasus berbahaya. Dokter Petrella menjunjung tinggi haknya atas pendapatnya dan menyatakan bahwa dia menentang segala jenis wajib vaksin. Dokter Petrella mengajukan banding atas keputusan tersebut.”

Video itu telah dibagikan dengan klaim yang mirip dan ditonton lebih dari 6.300 kali di Facebook di sini, di sini, di sini dan di sini, serta Instagram di sini

Video yang sama juga dibagikan dengan klaim serupa dalam bahasa Malaysia, bahasa Inggris, bahasa Arab, bahasa Belanda, bahasa Spanyol, bahasa Portugis dan bahasa Serbia.  

Pencarian nama dr. Roberto Petrella di Google menemukan berbagai laporan surat kabar berbahasa Italia yang diterbitkan di tahun 2019 seperti ini dan ini. Laporan-laporan tersebut mendeskripsikan Petrella sebagai pensiunan ginekolog dan dikenal karena menentang vaksin Human Papilloma Virus (HPV).

Berbagai tuduhan dalam video tersebut salah, menyesatkan serta spekulatif.

Covid-19 adalah rencana untuk mengurangi populasi: Salah

Seorang pengunjuk rasa memakai masker yang bertuliskan “Jangan berikan kesempatan kepada Gates”, yang merujuk pada Bill Gates saat aksi protes di Berlin pada tanggal 16 Mei 2020

Petrella mengklaim Covid-19 artinya “sertifikat identifikasi vaksinasi dengan kecerdasan buatan” dan angka 19 “adalah tahun pembuatannya”. Dia juga mengatakan Covid-19 “bukan nama virusnya” melainkan “nama dari rencana internasional untuk pengurangan dan pengendalian populasi”. 

Akan tetapi, ketika penyakit Covid-19 diumumkan saat media briefing pada tanggal 12 Februari 2020, ketua Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan Covid-19 adalah nama sejenis penyakit yang disebabkan virus corona jenis baru yaitu SARS-CoV-2. 

Teori mengenai “rencana pengontrolan internasional” dengan penanaman microchip melalui vaksin dan “pengurangan populasi” telah beredar di media sosial sejak beberapa waktu yang lalu dan semakin meningkat semenjak pandemi Covid-19. 

Kedua “rencana” tersebut sering dikaitkan dengan miliarder filantropis Bill Gates. Juru bicara Bill & Melinda Gates Foundation mengatakan kepada AFP Fact Check klaim tentang penanaman microchip itu tidak benar.

Sedangkan klaim mengenai “rencana” Gates untuk mengurangi populasi berasal dari kutipan pidatonya pada tahun 2010 tentang pengurangan emisi karbon yang telah disalahtafsirkan. 

Vaksin melemahkan kekebalan dan akan membunuh kita: Salah

Petrella mengklaim vaksinasi-vaksinasi sebelumnya “melemahkan imunitas” dan vaksin Covid-19 bertujuan untuk “depopulasi secara besar-besaran melebihi 80% penduduk dunia”. Dia juga mengatakan “setelah divaksinasi kita semua akan sakit parah, lemah, dan pasti akan menuju kematian”. 

Menurut laporan Kementerian Kesehatan di bulan April 2020, Indonesia telah berhasil bebas dari beberapa penyakit berkat imunisasi: “Dalam 4 dasawarsa terakhir kita berhasil mencapai eradikasi Cacar tahun 1974, eradikasi Polio tahun 2014, dan eliminasi Tetanus Maternal dan Neonatal tahun 2016.”

Di laporan lain, Kemenkes menyatakan vaksinasi Covid-19 sendiri bertujuan untuk “menurunkan kesakitan dan kematian akibat COVID-19, mencapai kekebalan kelompok (herd immunity), mencegah dan melindungi kesehatan masyarakat, melindungi dan memperkuat sistem kesehatan secara menyeluruh, menjaga produktivitas serta meminimalkan dampak sosial dan ekonomi.”

Seorang karyawan bekerja di lini produksi vaksin Covid-19 di PT Bio Farma di Bandung pada tanggal 12 Agustus 2020

WHO juga mengatakan bahwa “vaksin sebenarnya sangat aman” dan “sebagian besar efek samping vaksin bersifat kecil dan sementara, seperti lengan yang sakit atau demam ringan.”

Pelacak Vaksin Virus Corona oleh The New York Times per 30 November 2020 menunjukkan dari puluhan vaksin yang sedang diuji, enam vaksin telah disetujui untuk penggunaan awal atau secara terbatas. Sejauh ini belum ada vaksin yang disetujui untuk penggunaan penuh. 

Orang yang tidak divaksinasi tidak akan bisa ‘meninggalkan rumah atau melakukan perjalanan’: Spekulasi

Petrelli berspekulasi bahwa “kebanyakan orang yang tidak divaksinasi akan lenyap untuk masyarakat. Anda tidak akan bisa bepergian tanpa vaksin… untuk pergi ke bioskop, dan di masa depan Anda bahkan tidak akan bisa meninggalkan rumah sendiri. Ini sudah terjadi di beberapa kota di Tiongkok.”

Untuk menghentikan penularan Covid-19, otoritas Tiongkok membatasi pergerakan warga di lingkungan mereka atau di kota-kota serta menerapkan karantina wilayah yang ketat, contohnya di Wuhan pada bulan Januari 2020 dan di Beijing pada bulan Juni 2020. 

Pada tanggal 3 September 2020, bandara di Beijing menerima kedatangan internasional dari beberapa negara yang dianggap berisiko rendah. 

Pencarian di mesin pencari tidak menemukan laporan bahwa kota-kota di Tiongkok melarang orang yang tidak divaksin untuk bepergian.

Seorang petugas medis mengambil sampel dari seorang siswa sekolah menengah untuk tes Covid-19 di Surabaya pada tanggal 25 November 2020

Tes Covid-19 tidak bisa diandalkan dan tidak dapat mendeteksi virus corona baru: Salah

Klaim itu salah. 

Kemenkes mentwit bahwa: “Pada kasus suspek dilakukan tes PCR 2 kali berturut-turut dengan jeda minimal 24 jam. Apabila hasilnya positif maka menjadi kasus konfirmasi. Namun jika hasilnya 2 kali negatif maka menjadi discarded (bukan COVID-19).”

Laporan AFP Fact Check ini menjelaskan tes PCR merupakan “standar emas untuk diagnosis” infeksi Covid-19. 

Tes Covid-19 massal untuk anak-anak sekolah di Perancis: Salah

Petrella berspekulasi ada tujuan dibalik pernyataan bahwa sekitar 90% dari orang yang dites “positif” dengan menyatakan “inilah mengapa tes dilakukan terhadap anak-anak di sekolah”. Dia mengatakan, “Pada tanggal 11 Mei ... di Prancis, tes massal dilakukan di semua sekolah.”

Pencarian di Google tidak menunjukkan laporan mengenai tes Covid-19 yang dilakukan secara besar-besaran terhadap anak-anak di Prancis setelah sekolah-sekolah di sana dibuka kembali pada tanggal 11 Mei 2020.

Dalam rekomendasinya tertanggal 24 April 2020 untuk sekolah-sekolah, Dewan Ilmiah Kementerian Kesehatan Prancis tidak merekomendasikan tes skala besar terhadap siswa sekolah karena “ini akan mempengaruhi lebih dari 14 juta orang dan harus dilakukan secara berkala (setiap 5-7 hari) untuk mendeteksi kasus dan mencegah penularan virus secara efektif”. 

Seorang dokter menjelaskan kepada siswa, dengan bantuan unit cuci tangan otomatis, tindakan pencegahan untuk menekan penyebaran Covid-19 di sekolah dasar di Paris pada tanggal 23 November 2020

Terinfeksi virus tidak berarti Anda sakit: Sesat

Klaim ini menyesatkan. 

Menurut Kemenkes dan WHO, beberapa pasien Covid-19 yang tidak menunjukan gejala terbagi menjadi dua yaitu: orang yang terinfeksi tetapi tidak menunjukkan gejala (asimtomatik) dan orang yang terinfeksi tetapi belum menunjukkan gejala (pra-gejala)

Pasien pra-gejala dapat menularkan virus ke orang lain, seperti yang dijelaskan dalam penelitian ini dan ini

COVID-19