
Para ahli membantah klaim menahan napas membantu menguji infeksi COVID-19
- Artikel ini berusia lebih dari setahun.
- Diterbitkan pada hari 16/09/2020 pukul 03:25
- Waktu baca 3 menit
- Oleh: Mary KULUNDU, AFP Kenya, AFP Indonesia
Hak Cipta © AFP 2017-2025. Segala jenis penggunaan konten secara komersial harus melalui langganan. Klik di sini untuk lebih lanjut.
Video berdurasi 45 detik itu diunggah di Facebook di sini pada tanggal 13 September 2020 dan telah ditonton hampir 170 kali.
Status unggahan itu berbunyi: “MaRI KITA CEK
“Jika Anda dapat menahan napas hingga titik merah berpindah dari A ke B, Anda saat ini bebas Covid -9. Tes sederhana. Versi uji coba gratis tanpa biaya. Membantu menyelamatkan hidup.
“Tunggu titik merah berpindah ke A sebelum mulai menahan nafas.”

Sedangkan teks dalam aksara Hindi di video tersebut berbunyi: “Jika Anda bisa menahan napas sesuai dengan waktu perpindahan titik merah dari A ke B, maka Anda bisa bebas dari Corona.
“Bernapas, rileks, bernapas.
Tes Covid hanya untuk 2.200 Rupee India (sesuai tarif yang ditetapkan oleh pemerintah Rajasthan).”
Termasuk dalam informasi video tersebut adalah nomor telepon Rumah Sakit Ananta, yang terletak di India bagian barat laut.
Video itu telah ditonton lebih dari 1.600 kali setelah muncul dengan klaim yang mirip di unggahan lainnya di Facebook di sini, di sini, di sini dan di sini; di Twitter di sini dan di sini; serta di YouTube di sini dan di sini.
Video yang sama dengan klaim dalam bahasa Inggris dan Arab bisa dilihat di sini dan di sini.
Di Kenya dan Afrika Selatan, klaim tersebut beredar di WhatsApp dengan pesan yang berbunyi: “Jika Anda bisa menahan napas sampai titik merah bergerak dari A ke B, Anda bebas COVID-19 saat ini. Tes covid sederhana. Uji Coba Gratis tanpa biaya. Membantu Menyelamatkan Hidup. Tunggu sampai titik merah bergerak ke A sebelum Anda mulai menahan napas.”
Menurut klaim tersebut, bila seseorang mampu menahan napas bersamaan dengan 25 detil yang dibutuhkan titik merah itu bergerak dari satu titik ke titik lainnya, orang itu terbukti memiliki paru-paru yang “sehat dan tahan penyakit”.
‘Tidak akurat sama sekali’
Akan tetapi, semua klaim itu salah.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan kepada AFP bahwa teknik tersebut “tidak memberi tahu Anda jika Anda mengidap COVID-19”.
“Ini kelihatannya adalah aplikasi sederhana yang mengukur waktu, bukan aliran udara. Orang dengan penyakit paru-paru (akibat merokok, polusi, asma, PPOK atau penyakit paru obstruktif kronis, atau infeksi paru, termasuk, tapi tentu saja tidak terbatas pada Covid-19) akan lebih sulit melakukannya. Tampaknya hal itu tidak tidak berbahaya, tetapi tidak terlalu informatif pengukuran kasar dari fungsi paru-paru,” kata WHO melalui surel.
Ahli paru di Nairobi, Kenya, dr. Peter Waweru, juga membantah klaim tersebut, dengan menyatakan tes pernapasan tidak dapat diandalkan saat menguji ada atau tidaknya virus yang menyebabkan Covid-19.
“Ini sama sekali tidak akurat. Bernapas tidak dapat digunakan untuk menguji Covid-19. Paru-paru dapat mengalami banyak infeksi dan tes pernapasan tidak cukup untuk menentukan apakah seseorang mengidap Covid-19 atau tidak. Kami telah melihat orang-orang yang paru-parunya belum terkena virus, namun mereka dinyatakan positif Covid-19,” kata Waweru kepada AFP.
Rumah Sakit Ananta membantah klaim di video
Pengawas medis di Rumah Sakit Ananta, dr. Amba Lal Salve, mengatakan kepada AFP bahwa rumah sakit di negara bagian Rajasthan itu tidak berada di balik pesan di video tersebut, yang menggunakan informasi sah di halaman Facebook Rumah Sakit Ananta, termasuk nomor telepon dan biaya tes COVID-19.
“Video itu bukan milik rumah sakit dan kami tidak tahu siapa yang membuatnya,” katanya.
AFP Fact Check telah menerbitkan artikel mengenai berbagai tes yang digunakan untuk mendiagnosis COVID-19 di sini.
Adakah konten yang Anda ingin AFP periksa faktanya?
Hubungi kami