Seorang pria sedang diukur suhu tubuhnya di sebuah masjid di Surabaya pada tanggal 24 Mei 2020, di tengah kekhawatiran akan penyebaran COVID-19. (AFP / Juni Kriswanto)

Ahli kesehatan mengatakan tidak ada bukti garam dapat mengobati COVID-19

Hak cipta AFP 2017-2020. Hak cipta dilindungi undang-undang.

Sebuah unggahan telah dibagikan ribuan kali di Facebook, Twitter dan YouTube dengan klaim garam adalah obat mujarab untuk mengobati COVID-19. Klaim tersebut salah: ahli kesehatan mengatakan tidak ada bukti ilmiah bahwa garam dapat mengobati penyakit virus corona baru, dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut hingga saat ini belum ada obat untuk penyakit tersebut.

Unggahan itu telah dibagikan lebih dari 4.500 kali sejak diposting di Facebook pada tanggal 24 Mei 2020.

Berikut tangkapan layar unggahan menyesatkan itu:

Tangkapan layar unggahan menyesatkan

Beberapa kalimat dalam status Facebook yang panjang itu tertulis:
“Corona kalah dg Garam dapur.
Gak perlu vaksin vaksinan yg mau di drop oleh yahudi ato Cina.

“Ini bukan HOAKs.
Baca sampai tuntas. Ini dari teman yg baru kena Corona
Saudara Percaya beruntung. Tidak percaya saya tdk rugi.

“Barusan kejadian, 2hari yg lalu. Dia lagi enak2 tidur kaget bangun karena Batuk mendadak menyerang tanpa pemberitahuan/aba2/ternyata batuk berdahak lumayan banyak, dan sepertinya Nafas terasa agak terganggu. Padahal sebelumnya tdk ada tanda2 mau batuk.
Apa yg dia lakukan?

“1. Buang dahak yg ada.
2. Minum air hangat yg banyak/1gelas.
3. Ambil GARAM DAPUR/MEJA SEDIKIT seujung sendok teh, masukan ke mulut, biarkan garam larut didlm mulut dan telan dikit dikit biar tenggorokan kita dipenuhi suasana garam.”

Unggahan itu juga menyatakan: “Demikian kesaksian dari saya. Semoga Musim CORONA BISA KITA LAWAN DG GARAM YG MURAH MERIAH.”

Klaim yang sama juga telah dibagikan lebih dari 7.000 kali setelah diunggah di sini, di sini, di sini dan di sini di Facebook. 

Klaim itu juga dibagikan di Twitter di sini.

Klaim yang mirip tentang manfaat garam untuk mengobati penyakit virus corona baru juga dibagikan di YouTube di sini dan di sini.

Klaim tersebut salah: ahli kesehatan mengatakan tidak ada bukti ilmiah bahwa garam dapat mengobati penyakit virus corona baru, dan Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebut hingga saat ini belum ada obat untuk penyakit tersebut.

“Sampai saat ini, tidak ada bukti NaCl / garam dapur dapat membunuh virus penyebab COVID-19. Info tersebut adalah hoaks,” dr Dirga Sakti Rambe, seorang spesialis penyakit dalam dan vaksinolog di Rumah Sakit OMNI Pulomas di Jakarta, mengatakan kepada AFP lewat pesan WhatsApp pada tanggal 27 Mei 2020.

Menanggapi klaim serupa yang beredar di WhatsApp dan media sosial, Agit Sena Adisetiadi, dokter spesialis penyakit dalam di Universitas Gadjah Mada, mengatakan: “Berkumur dengan air garam tidak dapat mencegah infeksi akibat COVID-19.”

“Tidak ada bukti media yang menjelaskan bahwa hal tersebut membantu mencegah COVID-19,” kata Agit seperti dikutip dalam sebuah artikel yang dimuat di website kampus tersebut.

Jurusan Kesehatan Masyarakat Universitas John Hopkins di Amerika Serikat sebelumnya pernah meluruskan klaim serupa tentang berkumur-kumur dengan air garam, dan berkomentar: “Tindakan itu tidak memiliki efek langsung pada virus.”

Berikut tangkapan layar website Universitas John Hopkins itu:

Tangkapan layar website Universitas John Hopkins

Sementara itu WHO juga pernah meluruskan klaim lain terkait garam, bahwa mencuci hidung secara teratur dengan air larutan garam mencegah infeksi akibat virus corona baru. 

“Tidak ada bukti bahwa mencuci hidung secara teratur dengan larutan garam telah melindungi orang dari infeksi akibat virus corona baru,” kata lembaga tersebut.

Berikut tangkapan layar website WHO itu:

Tangkapan layar website WHO

WHO juga mengatakan di sini bahwa hingga saat ini belum ada obat untuk COVID-19.

“Meskipun sejumlah pengobatan barat, racikan obat tradisional atau obat rumahan memberikan kenyamanan dan mengurangi gejala ringan COVID-19, tidak ada obat yang terbukti secara medis dapat mencegah atau menyembuhkan penyakit ini. WHO tidak merekomendasikan pengobatan sendiri menggunakan obat apapun, termasuk antibiotik, sebagai bentuk pencegahan atau pengobatan COVID-19,” kata lembaga PBB itu.

VIRUS CORONA