Video ini menggabungkan beberapa klip insiden berbeda yang terjadi sebelum April 2020

Sebuah video yang telah ditonton ratusan ribu kali di YouTube dan Facebook diklaim menunjukkan insiden anti-Tiongkok di Indonesia di bulan April 2020, saat pandemi COVID-19. Klaim tersebut menyesatkan: video itu telah menggabungkan klip yang telah beredar di beberapa laporan insiden berbeda yang terjadi antara bulan Juni 2011 dan Januari 2020.

Video itu telah ditonton lebih dari setengah juta kali sejak diunggah di YouTube pada tanggal 1 April 2020.

Berikut tangkapan layar unggahan menyesatkan itu:

Tangkapan layar unggahan menyesatkan

Judul video menyesatkan itu tertulis: “#BERITATERKINI #BERITAVIRALHARIINI #VIRALHARIINI
BERITA TERKINI~ WARGA SUMBAR MENGAMUK, USIR CHINA, DAN BAKAR PERUSAHAAN MEREKA”.

Video berdurasi 10 menit 4 detik itu juga telah dilihat sekitar 87.000 kali dan dibagikan lebih dari 4.500 kali sejak diunggah di Facebook di sini dan di sini dengan klaim yang mirip.

Klaim tersebut menyesatkan. Video itu menggabungkan klip dari berbagai insiden yang terjadi sebelum April 2020, termasuk video pembakaran barang milik salah satu perusahaan tambang di Sumatera Barat pada tahun 2011 dan satu video lain tentang kedatangan turis Tiongkok di Sumbar pada bulan Januari 2020.

Pencarian gambar terbalik dan kata kunci di Google mengungkap bahwa video menyesatkan itu menggabungkan sekitar 5 rekaman video insiden berbeda yang terjadi antara bulan Juni 2011 dan Januari 2020.

Tak ada laporan tentang warga Sumbar mengusir warga negara Tiongkok dan membakar perusahaan Tiongkok pada bulan April 2020. 

Tayangan pertama

Tayangan pertama memperlihatkan keramaian di salah satu bandara seperti ditunjukkan dalam tangkapan layar berikut:

Tangkapan layar tayangan pertama dalam video menyesatkan

Tayangan pertama sebelumnya pernah dimuat dalam berita CNN Indonesia di sini pada tanggal 27 Januari 2020, tentang turis Tiongkok yang tiba di Padang, ibukota provinsi Sumbar, pada bulan Januari 2020. 

Judul berita CNN Indonesia itu adalah: “Kedatangan 174 Turis Tiongkok di Padang Tuai Kontroversi”.

Menurut berita itu, turis asal Tiongkok tersebut tiba di Padang pada tanggal 26 Januari 2020 dan langsung disambut oleh gubernur Sumbar. 

Warga menolak kedatangan turis Tiongkok itu karena khawatir mereka bisa membawa COVID-19, yang pertama kali diidentifikasi di Wuhan pada akhir tahun 2019, ke Sumatra Barat, Liputan6.com melaporkan di sini pada tanggal 27 Januari 2020.

Berikut tangkapan layar perbandingan antara tayangan pertama di video menyesatkan (kiri) dan video CNN Indonesia (kanan):

Perbandingan antara tayangan pertama di video menyesatkan (kiri) dan video CNN Indonesia (kanan)

Tayangan kedua

Tayangan kedua menunjukkan sekelompok orang sedang diwawancarai seorang jurnalis. Tangkapan layar tayangan itu bisa dilihat di bawah ini:

Tangkapan layar tayangan kedua di video menyesatkan

Tayangan itu sebelumnya dimuat di video berita iNews ini pada tanggal 29 Januari 2020, yang melaporkan unjuk rasa yang dilakukan sekelompok orang untuk menentang kedatangan turis Tiongkok di Sumatra Barat. 

Judul video iNews itu adalah: “Forum Masyarakat Minang Tuntut Turis China Keluar Sumbar - iNews Malam 30/01”.

Menurut laporan tersebut, kelompok itu meminta turis asal Tiongkok yang baru saja tiba untuk dipulangkan karena khawatir membawa COVID-19 ke provinsi mereka. 

Berikut tangkapan layar yang membandingkan antara tayangan kedua di video menyesatkan (kiri) dan video iNews (kanan):

Perbandingan antara tayangan kedua di video menyesatkan (kiri) dan video iNews (kanan)

Tayangan ketiga

Tayangan ketiga memperlihatkan sekelompok orang berdiri berbaris seperti ditunjukkan dalam tangkapan layar berikut:

Tangkapan layar tayangan ketiga di video menyesatkan

Klip tersebut telah tersebar online sekitar bulan Juni 2017 dalam berbagai unggahan media sosial tentang pekerja Tiongkok di provinsi Sulawesi Tenggara, misalnya di sini dan di sini di YouTube diunggah masing-masing pada tanggal 6 Juni dan 7 Juni 2017.

Judul video video itu adalah: “#Ironis 
Viral di Medsos. Tenaga Kerja Asal Tiongkok di Kendari”.

Sebagian keterangan video tertulis: “Liputan kali ini sangat menampar saya, membuat mata saya terbuka selebar"nya.

“Ternyata isu serbuan tenaga kerja asing asal tiongkok ke indonesia bukan isapan jempol semata. pagi ini saya melihat dengan mata kepala saya sendiri.”

Berikut perbandingan tangkapan layar tayangan ketiga di video menyesatkan (kiri) dan video YouTube (kanan):

Perbandingan antara tayangan ketiga di video menyesatkan (kiri) dan video YouTube (kanan)

 Tayangan keempat

Tayangan keempat menunjukkan pekerja berpakaian biru. Tangkapan layar tayangan itu bisa dilihat di bawah ini:

Tangkapan layar tayangan keempat di video menyesatkan

Klip itu sebelumnya telah dimuat di berbagai laporan berita pada bulan September 2018, termasuk dalam laporan Wartakota ini pada tanggal 17 September 2018, dan Detik.com di sini pada tanggal 18 September 2018.

Judul video video Wartakota itu adalah: “viral tka asal china ukur tanah di tambun, Bekasi”.

Keterangan video tertulis: “Empat TKA itu menggunakan alat yang biasa digunakan untuk mengukur tanah.”

Berikut perbandingan tangkapan layar antara tayangan keempat di video menyesatkan (kiri) dan video Wartakota (kanan):

Perbandingan antara tayangan keempat di video menyesatkan (kiri) dan video Wartakota (kanan)

 Tayangan kelima

Tayangan kelima menunjukkan beberapa orang berdiri di depan bangunan yang sedang terbakar. Tangkapan layar tayangan itu bisa dilihat di bawah ini:

Tangkapan layar tayangan kelima di video menyesatkan

 Tayangan itu berasal dari video lama yang dimuat di sini pada tanggal 17 Juni 2011 oleh Liputan6.com.

Berikut tangkapan layar laporan Liputan6.com:

Tangkapan layar laporan Liputan6.com

 Judul laporan berita itu adalah: “Warga Solok Selatan Bakar Enam Kapal Asing”.

Solok Selatan adalah salah satu kabupaten di provinsi Sumbar.

Dalam laporan itu, Liputan6.com menyebut bahwa perusahaan yang dibakar itu mempekerjakan “orang asing” tanpa menyebut kewarganegaraan mereka. Laporan itu juga menyebut bahwa warga membakar kapal dan bangunan karena merasa “diperlakukan tidak adil” oleh aparat.

“Selama ini warga yang menambang emas kerap ditangkap polisi. Sementara perusahaan tambang yang mempekerjakan orang asing justru dibiarkan,” tulisan Liputan6.com tentang alasan warga melakukan tindakan tersebut.

Laporan itu berisi video yang memperlihatkan tayangan yang sama. Berikut perbandingan tangkapan layar antara tayangan kelima di video menyesatkan (kiri) dan video dalam laporan Liputan6.com (kanan):

Perbandingan antara tayangan kelima di video menyesatkan (kiri) dan video dalam laporan Liputan6.com (kanan)