Ahli kesehatan tidak merekomendasikan menggunakan tisu antiseptik sebagai masker

Hak cipta AFP 2017-2020. Hak cipta dilindungi undang-undang.

Sebuah unggahan di Facebook yang telah ditonton ratusan ribu kali berisi video seorang wanita yang memperagakan cara membuat “masker pelindung virus corona” dari tisu antiseptik atau tisu basah. Perusahaan pembuat tisu basah di video itu mengatakan tisu basah tidak boleh digunakan sebagai masker; dan ahli kesehatan juga mengingatkan bahayanya bagi kesehatan.

Video itu telah ditonton lebih dari 500.000 kali dan dibagikan lebih dari 15.000 kali sejak diunggah di Facebook tanggal 1 Maret 2020.

Berikut tangkapan layar unggahan menyesatkan itu:

Tangkapan layar unggahan menyesatkan

Status Facebook menyesatkan itu tertulis: “INDONESIA ADALAH GUDANGNYA INOVASI BERMANFAAT...............”

Wanita di video itu memperagakan bagaimana cara membuat lubang pada tisu sehingga dapat dipakai sebagai masker. Wanita itu juga memperagakan cara memakai masker buatannya dengan memasangnya menutupi mulut dan hidung.

“Kalau sangsi dua lapis….seandainya tidak ada masker pakai ini aja nggak usah sangsi," wanita itu menjelaskan.

Unggahan menyesatkan itu juga dibagikan di Facebook di sini dan di sini

Video ini dan ini berisi tutorial cara membuat masker dari tisu basah yang diperagakan dua orang yang berbeda.

Di samping itu, video wanita di unggahan Facebook itu telah diunggah dalam status berbahasa Inggris di sini dan telah dibagikan lebih dari 167.000 kali.

AFP mengidentifikasi produk yang digunakan di video sebagai tisu basah buatan PZ Cussons baby care line.

“Tisu bayi Cussons semata-mata dibuat sebagai pembersih kulit dan bukan untuk digunakan sebagai masker. Semua produk kami harus digunakan sesuai petunjuk yang terdapat pada kemasan. Kami merekomendasikan konsumen mengikuti petunjuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan pemerintah di negara masing-masing untuk mencegah infeksi,” Cussons mengatakan kepada AFP melalui email.

“Hal yang paling utama adalah ‘jangan menempatkan dirimu pada posisi yang berbahaya,’” tegas KK Cheng, direktur Institut Penelitian Kesehatan Terapan di Universitas Birmingham di Inggris. Profesor tersebut menekankan pentingnya “social distancing” (pembatasan sosial), “tinggal di rumah,” dan “mencuci tangan” untuk melindungi diri dari virus corona baru.

“Saya tahu tidak ada bukti yang mendukung atau menentang hal tersebut. Tentu saja bukan tidak mungkin hal itu bisa membawa masalah lewat kompensasi resiko (merasa terlindungi sehingga kurang patuh pada aturan pembatasan sosial),” tegas Ben Cooper, seorang profesor epidemiologi di Unit Penelitian Obat Tropis Mahidol-Oxford di Bangkok, Thailand.

Cooper merekomendasikan orang-orang untuk mengikuti pedoman WHO tentang kapan dan bagaimana cara menggunakan masker untuk melindungi diri dari virus.

Pedoman tentang kapan harus menggunakan masker wajah (Badan Kesehatan Dunia)

Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC) mengatakan orang yang tidak sakit tidak perlu menggunakan masker kecuali saat sedang merawat orang yang sedang sakit.

Namun, ada perbedaan pendapat di antara pakar kesehatan tentang pemakaian masker untuk mencegah infeksi virus corona. Yuen Kwok-yung, ahli epidemiologi di Universitas Hong Kong (HKU), berkata: “Memakai masker tak hanya untuk melindungi dirimu sendiri tapi juga orang lain, karena bila kamu terinfeksi tapi tanpa simptom, kamu bisa menghentikan penyebarannya dengan menggunakan masker.” 

Pakar kesehatan Asia lainnya, seperti George Gao, direktur jenderal Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tiongkok, dan Kim Woo-joo, dokter dan profesor di Korea University Guro Hospital, juga merekomendasikan pemakaian masker untuk masyarakat umum. 

Menurut ahli imunologi virus Dr Ariane Davison, yang berbasis di Hong Kong, masker bedah dan masker N95, yang bisa memfilter virus dari udara sampai 95%, bisa memberikan perlindungan efektif. 

Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC) merekomendasikan pemakaian masker kain sebagai solusi interim terakhir bila masker bedah menjadi langka. 

Profesor Cheng juga berkata: “Saya tidak bisa menemukan situasi di mana orang-orang menjadi sangat putus asa sehingga membuat masker dari tisu basah.” 

VIRUS CORONA