Foto satelit menunjukkan kebakaran di Ivankiv, Ukraina, pada tanggal 25 February 2022 ( Planet Labs PBC / )

Klaim tanpa bukti bahwa AS mendanai lab senjata biologis di Ukraina menyebar di medsos

Hak cipta AFP 2017-2022. Hak cipta dilindungi undang-undang.

Berbagai unggahan media sosial mengklaim bahwa sejumlah laboratorium Ukraina yang ditemukan Rusia itu didanai AS dan dipakai untuk mengembangkan senjata biologis. Namun, pejabat AS dan pakar nonproliferasi mengatakan laboratorium itu dibangun untuk mendeteksi dan mencegah penyebaran senjata biologis, dan pernah membantu menekan penyebaran Covid-19. Para pakar ilmu biologi Rusia yang membaca dokumen yang dijadikan bukti oleh Moscow juga mengatakan klaim itu tak berdasar sama sekali.

"RUSIA TEMUKAN SENJATA BIOLOGIS DI UKRAINA," demikian bunyi status postingan TikTok yang diunggah pada tanggal 9 Maret 2022 ini.

Video yang telah ditonton lebih dari 1.5 juta kali itu menampilkan Letjen Igor Kirillov, kepala bagian satuan perlindungan radiasi, kimia dan biologis militer Rusia, memberikan konferensi pers tentang klaim tersebut.

Teks yang ditempel di atas video tertulis: "Pantesan covid hilang bagaikan ditelan bumi sejak invasi Rusia ke ukraina."

( Safrin LABATU)

Klaim serupa yang mengaitkan laboratorium biologis Ukraina dengan pandemi, termasuk klaim bahwa virus Covid-19 dibuat di lab-lab tersebut, juga beredar di TikTok di sini; di Facebook di sini dan di sini; di Twitter di sini dan sini; dan di YouTube di sini, sini dan sini.

Klaim yang menyebutkan "Rusia temukan lab rahasia senjata biologis di Ukraina yang didanai Amerika Serikat" beredar tak hanya dalam bahasa Indonesia tapi juga dalam bahasa Inggris dan bahasa Prancis.

Tangkapan layar unggahan menyesatkan, diambil pada tanggal 1 April 2022

'Lab senjata biologis'

Klaim tentang keberadaan senjata biologis di Ukraina itu dibantah tak hanya oleh pejabat dan mantan pejabat Amerika Serikat, tapi juga pakar Amerika maupun Rusia.

Pejabat dan pakar Amerika mengatakan bahwa klaim tersebut tanpa bukti dan merupakan bagian dari disinformasi lama Rusia, serta bahwa Washington justru lama bekerja mencegah penggunaan senjata biologis.

Pernyataan Kedutaan Besar AS di Ukraina di bulan April 2020 menyatakan apa yang mereka sebut sebagai "disinformasi Rusia terkait kemitraan AS-Ukraina untuk mengurangi ancaman biologis".

"Program Pengurangan Ancaman Biologis Departemen Pertahanan AS bekerja dengan pemerintah Ukraina untuk mengkonsolidasikan dan mengamankan patogen dan racun yang menimbulkan masalah keamanan, sambil melakukan penelitian dan pengembangan vaksin," demikian bunyi pernyataan itu.

"Kami juga bekerja dengan mitra Ukraina kami untuk memastikan Ukraina dapat mendeteksi dan melaporkan wabah yang disebabkan oleh patogen berbahaya sebelum menimbulkan ancaman keamanan atau stabilitas," lanjut pernyataan itu.

Andrew Weber, mantan asisten sekretaris AS untuk program pertahanan nuklir, kimia, dan biologi yang sekarang menjadi senior fellow Council on Strategic Risks dan anggota dewan direksi Arms Control Association, mengatakan kepada AFP bahwa Departemen Pertahanan AS "tidak pernah memiliki laboratorium biologi di Ukraina".

Weber mengatakan bahwa sebuah perjanjian di tahun 2005 bertujuan "meningkatkan laboratorium kesehatan masyarakat yang misinya serupa dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS. Laboratorium-laboratorium ini telah memainkan peranan penting dalam menghentikan penyebaran Covid-19."

Pada tahun 1969, presiden AS saat itu, Richard Nixon, menghentikan penggunaan senjata biologis, dan Amerika Serikat bergabung dengan sebagian besar negara anggota PBB dalam Konvensi Senjata Biologis global yang mulai berlaku pada tahun 1975.

Vickie Sutton, direktur Center for Biodefense, Law & Public Policy di Texas Tech University, mengatakan AS selama beberapa dekade terakhir telah bekerja sama dengan negara lain untuk mengekang senjata biologis dan memajukan penelitian untuk menetralisir patogen apa pun.

"Ada miskonsepsi bahwa Amerika menciptakan senjata biologis," kata Sutton, dan menambahkan bahwa Washington telah bekerjasama dengan sejumlah negara bekas Uni Soviet untuk menetralisir senjata biologis.

"Uni Soviet memiliki program senjata biologis terbesar yang pernah dibuat" dan hal itu menjelaskan kehadiran AS di fasilitas-fasilitas tersebut untuk membantu menangkal wabah senjata biologis, katanya.

Pakar AS "ada di [Ukraina] untuk membantu penelitian sehingga dapat merespon dengan cepat" jika terdapat wabah, kata Sutton, dan menambahkan bahwa perjanjian senjata biologis yang ada saat ini tidak memiliki mekanisme pemantauan dan verifikasi melainkan negara-negara sendirilah yang membuat laporan secara sukarela sebagai "langkah-langkah pembangunan kepercayaan".

Beberapa peneliti mengatakan bahwa Uni Soviet terus mengembangkan senjata biologisnya meskipun telah meratifikasi Konvensi Senjata Biologis, dan bahwa Amerika Serikat bekerja dengan negara bekas Uni Soviet untuk menghancurkan atau menghilangkan sebagian besar pasokan senjata biologis tersebut.

Filippa Lentzos, seorang peneliti senjata biologis di King's College of London yang pernah menjadi konsultan untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mengatakan klaim tentang Ukraina tersebut adalah yang terbaru dalam serangkaian laporan tentang laboratorium di negara-negara ini.

Lentzos, salah seorang dari beberapa ahli yang pernah mengunjungi bekas laboratorium penelitian Uni Soviet di Republik Georgia, mengatakan semua indikasi dari peneliti senjata biologis independen dan pejabat menunjukkan Amerika Serikat mendukung penonaktifan agen biologis, dan bahwa kegiatan di pusat-pusat tersebut bertujuan untuk mencegah wabah penyakit.

"Semua laboratorium itu adalah laboratorium kesehatan masyarakat seperti yang dimiliki CDC [Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit di AS] atau Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa," kata Lentzos.

Para pakar biologi Rusia yang memeriksa dokumen yang dirilis Moskow sebagai bukti klaim "lab senjata biologis yang didanai Pentagon di Ukraina" mengatakan dokumen tersebut sebenarnya menjelaskan patogen tak berbahaya yang digunakan oleh riset kesehatan publik, seperti dilansir The Intercept, media Amerika, di sini.

Covid-19

Pada hari laporan ini diturunkan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) masih mencatat jumlah kasus Covid-19 baru di seluruh dunia.

Pada tanggal 4 April 2022, WHO mencatat lebih dari 718,000 kasus Covid-19 baru.

Menurut riset dan pernyataan ilmuwan yang diterbitkan di jurnal ilmiah Nature dan The Lancet, analisis genom menemukan SARS-CoV-2, virus penyebab Covid-19, "berasal dari alam", bukan hasil rekayasa laboratorium.

AFP Factuel pernah membahas berbagai hipotesa and teori asal-muasal Covid-19 di sini.

Konflik Ukraina COVID-19