Seorang pejalan kaki melewati mural di Kota New York tanggal 7 Mei 2020. (AFP / Angela Weiss)

Film ‘Plandemic’ menyebarkan klaim sesat tentang COVID-19

Hak cipta AFP 2017-2020. Hak cipta dilindungi undang-undang.

Film “Plandemic” – berisi rekaman wawancara berdurasi hampir 26 menit – telah dibagikan dalam berbagai unggahan media sosial. Namun video itu, yang YouTube dan Facebook berupaya hapus karena melanggar kebijakan konten mereka, berisi sejumlah klaim salah atau menyesatkan, termasuk klaim tentang virus corona baru, menurut berbagai pakar.

Memakai masker bisa berbahaya, vaksin telah “membunuh jutaan orang”, virus corona jenis baru tidak “muncul secara alami”, rumah sakit “diberikan insentif” untuk melaporkan diagnosa COVID-19, hidroksiklorokuin obat paling manjur untuk sembuhkan COVID-19, vaksin flu meningkatkan kemungkinan tertular virus corona baru – semua klaim tersebut adalah contoh klaim salah atau menyesatkan dalam video itu. 

Unggahan yang membagikan video itu bisa dilihat di sini dan di sini di Twitter; juga di Facebook di sini dan di sini, di mana tayangannya telah dibagikan lebih dari 4.200 kali sebelum akhirnya dihapus.

Video itu juga diunggah di sini, sebelum akhirnya dihapus oleh YouTube, dan juga di sini

Berikut tangkapan layar salah satu unggahan yang membagikan video itu:

Tangkapan layar unggahan menyesatkan

Video “Plandemic” menampilkan Dr. Judy Mikovits, ilmuan yang mendapat perhatian besar tahun 2009 lewat penelitiannya yang seolah-olah luar biasa tentang penyakit sindrom kelelahan kronis (chronic fatigue syndrom). Namun makalahnya itu akhirnya dibatalkan karena hasil temuannya tidak bisa direplikasi, dan beberapa peneliti berteori bahwa hasil penelitian itu kemungkinan disebabkan oleh kontaminasi laboratorium.

Kejatuhan Mikovits berlanjut setelah dirinya sempat dipenjara karena tuduhan pencurian dari laboratorium tempat dia menjalankan penelitian yang dibatalkan itu.

“Kadang-kadang, seseorang dengan latar belakang ilmiah berseberangan dengan logika, menciptakan teori konspirasi, dan mendapat pendukung setia lewat ketidakpastian,” Dr. Brandon Brown, seorang profesor di Sekolah Kedokteran Universitas California, Riverside, berbicara tentang Mikovits.

Dr. Jason Newland, profesor spesialis anak dan penyakit menular di Sekolah Kedokteran Universitas Washington di St. Louis, mengatakan video itu “memecah dan mempolarisasi negara kita pada saat kekompakan, kolaborasi dan menarik tali yang sama sangat diperlukan”. 

“Dan ketika kita tidak melakukan hal itu, apa yang kita lakukan adalah memperburuk situasi,” dia mengatakan kepada AFP lewat telepon.

YouTube, Facebook menghapus video ‘Plandemic’

YouTube dan Facebook memutuskan menghapus video itu.

Merujuk pada salah satu klaim salah di video itu, seorang juru bicara Facebook mengatakan melalui email: “Mengisyaratkan bahwa memakai masker dapat membuat Anda sakit bisa mengarahkan pada bahaya, jadi kami menghapus video itu.”

Seorang juru bicara YouTube mengatakan saat ditanya tentang video itu melalui email: “Sejak awal pandemi ini, kami telah memiliki kebijakan yang jelas menentang misinformasi tentang COVID-19 dan berkomitmen untuk terus menyajikan informasi tepat waktu dan berguna pada saat-saat yang kritis ini.”

AFP Fact Check membedah klaim salah dan menyesatkan yang terdapat dalam film “Plandemic” di bawah ini.

Klaim: Vaksin telah membunuh jutaan orang dan tidak ada vaksin yang berguna untuk virus RNA

Mikovits mengatakan dalam video itu bahwa vaksin telah menghilangkan jutaan nyawa dan “saat ini tidak ada vaksin untuk virus RNA yang diharapkan berguna.”

Klaim ini salah.

“Kita tahu bahwa vaksin telah menyelamatkan jutaan orang, bukan menghilangkan nyawa,” Newland mengatakan kepada AFP lewat telepon.

Dr. Jason McLellan, profesor associate bidang biosains molekuler di Universitas Texas Austin, mengatakan melalui email: “Hal ini tentu saja salah.”

“Terkait virus RNA, influenza adalah virus RNA dan ada vaksin yang kita pakai setiap tahun untuk itu. Campak juga termasuk virus RNA dan ada vaksin yang bagus untuk itu. Virus RNA lain yang memiliki vaksin antara lain rabies, rubella, dan virus penyakit gondongan,” katanya.

Pakar virus corona dari Sekolah Kedokteran Universitas Texas A&M, Dr. Julian Leibowitz, menyebut klaim di video itu “kebohongan yang nyata”.

“Vaksin polio hampir telah benar-benar membasmi penyakit polio paralitik, campak bukan lagi penyakit yang diidap setiap bayi dengan angka kematian di AS 1 per 1000 kasus – ini cuma dua contoh cerita sukses vaksin. Masih ada banyak cerita sukses lainnya.”

Klaim: Virus corona baru ‘tidak terjadi secara alami’

“Saya tidak akan menggunakan kata ‘diciptakan’, tapi Anda tidak bisa mengatakan ‘terjadi secara alami’ jika penyakit itu lewat laboratorium,” Mikovits berbicara tentang asal virus corona jenis baru. “Sangat jelas kalau virus ini dimanipulasi … dan ini adalah apa yang dilepaskan, baik disengaja maupun tidak.”

Klaim ini salah.

“Klaim ini salah dalam banyak hal,” kata Leibowitz. “TIDAK ada bukti kalau SARS-CoV-2 adalah virus yang diciptakan dalam laboratorium.”

Klaim: Pendanaan AS untuk eksperimen virus corona Tiongkok berkontribusi pada wabah

Mikovits mengatakan bahwa Institut Alergi dan Penyakit Menular Nasional AS – salah satu divisi Institut Kesehatan Nasional (NIH) yang diketuai Dr. Anthony Fauci – adalah salah satu pihak yang perlu dipersalahkan atas pandemi virus corona baru ini, karena institusi itu telah mendanai berbagai eksperimen di sebuah laboratorium di Wuhan, Tiongkok.

Klaim ini menyesatkan.

“Dia mengatakan bahwa AS bekerjasama dengan Wuhan untuk meneliti virus corona beberapa tahun yang lalu, seperti mengatakan saat ini adalah momen ‘kena kau’: ya benar tentu saja kita melakukan ini – Tiongkok adalah hotspot virus corona dan masuk akal meneliti keluarga virus ini di tempat mereka secara alami muncul,” Dr. Kathleen Montgomery, seorang fellow pada bagian patologi Universitas Vanderbilt, mengatakan melalui email.

Leibowitz mengatakan tidak ada bukti bahwa penelitian virus corona di Wuhan berhubungan dengan wabah COVID-19.

Menanggapi klaim ini, NIH mengatakan melalui email bahwa institusi itu dan “Institut Alergi dan Penyakit Menular Nasional berfokus pada riset penting yang bertujuan mengakhiri pandemi COVID-19 dan mencegah angka kematian lebih jauh. Kami tidak mau terlibat dalam taktik-taktik yang dilakukan beberapa orang yang mencoba menggelincirkan usaha-usaha kami.”

Klaim: Rumah sakit diberikan insentif untuk melaporkan diagnosa COVID-19

Mikovits juga mengklaim di video itu kalau rumah sakit mendapat “$13.000 dari Medicare jika kamu menyebutnya COVID-19.”

Jika pasien menggunakan ventilator, rumah sakit memperoleh uang tiga kali lebih banyak, video itu mengklaim. Para dokter memberikan ventilator pada pasien dengan tidak semestinya, Mikovits mengatakan: “Anda telah membunuh mereka dengan ventilator ‘karena anda memberi mereka penanganan yang salah.”

Klaim ini menyesatkan.

“Kami tidak ingin mengintubasi orang, kami ingin setiap orang menjadi sehat,” kata Newland.

“Ada pendapat yang mengatakan bahwa kami mengintubasi untuk mendapat uang, bukan seperti itu dokter bekerja, atau petugas klinis secara umum.”

Montgomery sependapat. “Tidak ada bukti untuk mendukung anggapan bahwa dokter salah mendiagnosa COVID-19 karena insentif uang,” dia mengatakan.

Seorang juru bicara Pusat Layanan Medicare dan Medicaid (CMS) mengonfirmasi bahwa lembaga itu mengimplementasikan section 3710 peraturan Coronavirus Aid, Relief, and Economic Security (CARES)  – atau Bantuan, Pertolongan Virus Corona dan Keamanan Ekonomi – pada tanggal 15 April 2020, yang selanjutnya menaikkan pembayaran kasus COVID-19 sebesar 20 persen.

Kenaikan itu “bukan bonus”, kata jubir CMS itu melalui email, namun merupakan langkah untuk melindungi kesehatan pasien dan layanan kesehatan selama wabah ini.

Meskipun Medicare umumnya membayar lebih tinggi untuk pasien yang membutuhkan ventilator dibanding mereka yang tidak, “penyedia Medicare diwajibkan untuk secara akurat menagih biaya layanan yang disediakan sesuai dengan diagnosa penerima pertanggungan,” kata jubir tersebut.

“Klaim dengan diagnosa yang tidak sesuai ... akan dimintai ganti rugi dan/atau tuntutan hukum perdata atau pidana lainnya karena membuat klaim palsu.”

Klaim: Hidroksiklorokuin obat paling manjur untuk COVID-19

Video itu berisi beberapa klaim salah atau sesat tentang hidroksiklorokuin.

Obat malaria yang berusia puluhan tahun itu “bekerja dengan sangat baik” untuk pasien COVID-19, klaim seorang pria yang tidak diidentifikasi dalam video “Plandemic”.

Hal ini salah; sebuah penelitian tanggal 7 Mei 2020 melaporkan tidak ada bahaya atau keuntungan menggunakan obat hidroksiklorokuin untuk pasien COVID-19, kata Newland.

Suara di video itu mengatakan bahwa: “Dalam sebuah survei yang diikuti 2.300 dokter di 30 negara, hidroksiklorokuin mendapat peringkat sebagai obat paling mujarab untuk menangani virus tersebut.”

Klaim ini menyesatkan.

Dalam sebuah wawancara dalam acara “Fox and Friends” di bulan April 2020, Fauci menyebut sebuah penelitian yang menemukan bahwa, saat diberikan daftar 15 pilihan obat, 37 persen dari sekitar 6,200 dokter di 30 negara mengatakan hidroksiklorokuin adalah obat paling mujarab melawan penyakit COVID-19.

“Kami tidak bekerja berdasarkan apa yang kamu rasa, kami bekerja berdasarkan bukti,” Fauci mengatakan. “Pasti ada kemungkinan manfaat di sana, saya pikir kita harus berhati-hati untuk tidak membuat lompatan besar dengan berasumsi bahwa ini adalah obat mujarab.”

Otoritas kesehatan masyarakat di beberapa negara pernah mengatakan bahwa uji klinis masih diperlukan untuk menentukan keampuhan obat hidroksiklorokuin.

Mikovits juga mengklaim di video bahwa Asosiasi Medis Amerika (AMA) “mengatakan dokter akan kehilangan izin mereka jika menggunakan hidroksiklorokuin”. Klaim ini juga salah.

Satu-satunya arahan AMA terkait pemberian obat COVID-19 adalah pernyataan bersama dengan Asosiasi Apoteker Amerika dan Apoteker Sistem Kesehatan Masyarakat Amerika, tersedia di sini, seorang juru bicara mengatakan.

Pernyataan itu tertulis: “Penggunaan obat-obatan yang disahkan oleh FDA (Badan Pengawas Obat AS) di luar indikasi yang tertera pada label diserahkan pada penilaian profesional dokter atau pembuat resep obat.”

FDA mengeluarkan prosedur penggunaan obat darurat (Emergency Use Authorization) dan mengizinkan petugas kesehatan memberikan obat hidroksiklorokuin kepada orang dewasa yang tidak dapat mengikuti uji klinis, beserta dosis dan prosedur pemberiannya.

Klaim: Vaksin flu meningkatkan kemungkinan tertular COVID-19 

“Vaksin flu meningkatkan kemungkinan tertular COVID-19 sebanyak 36 persen,” Mikovits mengklaim di video, mengutip penelitian ini.

Klaim ini salah. Data dalam penelitian itu dihimpun selama musim flu tahun 2017-2018, sebelum virus corona baru diidentifikasi, kata Mclellan, “jadi tidak ada klaim yang dapat dibuat terkait vaksin influenza dan SARS-CoV-2/COVID19.”

Hasil penelitian itu menunjukkan bahwa ada angka signifikan sebesar 7,8 persen orang mendapat vaksin flu namun positif virus corona, dibanding hanya 5,8 persen orang yang positif virus corona tanpa vaksin flu, kata McLellan, namun data tersebut bersifat korelatif, bukan kausatif, dan virus corona tersebut masuk kategori empat virus corona yang menyebabkan flu biasa, bukan COVID-19.

“Ini adalah virus jenis baru,” kata Newland. “Vaksin flu tidak akan ada efeknya.”

AFP Fact Check sebelumnya telah memverifikasi klaim tentang vaksin flu di sini dan di sini.

Klaim: Memakai masker dan sarung tangan berbahaya bagi sistem imun

Dua orang dokter yang sebelumnya membuat konferensi pers kontroversial dengan mengkritik kebijakan tetap di rumah juga muncul dalam video itu. Salah seorang diantaranya mengatakan masker dan sarung tangan memperburuk sistem imun, sementara seorang lainnya berkata masker dan sarung tangan mengurangi “bakteri floral,” sehingga memungkinkan terkena “infeksi oportunistik.”

Dan Mikovits mengatakan: “Memakai masker mengaktifkan virus diri anda. Anda menjadi sakit dari ekspresi virus corona yang diaktifkan kembali dari dalam diri anda dan jika virus tersebut adalah SARS-CoV-2, maka anda dalam masalah besar.”

Klaim tersebut salah.

Dr. Shelley Payne, direktur Pusat LaMontagne untuk Penyakit Menular di Universitas Texas di Austin, mengatakan melalui email bahwa “tidak ada bukti kalau masker atau sarung tangan mengurangi mikrobiota normal atau membuat orang mudah terkena infeksi oportunistik.”

Walaupun kehadiran mikrobiota diperlukan bagi perkembangan sistem imun sejak awal kehidupan, dan mikrobiota juga memberikan perlindungan melawan patogen oportunistik, “mikrobiota tidak hilang saat masker atau sarung tangan dikenakan, dan perlu untuk terpapar mikroba tambahan dari alam untuk menjaga jumlah mikrobiota tersebut.”

Leibowitz mengatakan dia tahu tidak ada data yang menyebut masker melemahkan sistem imun. “Pada kenyataannya, dalam hal infeksi oportunistik, menurut saya masker menurunkan resiko infeksi.”

Payne menambahkan bahwa memakai masker tidak mengaktifkan virus dari dalam diri – kain hanya menyaring partikel dari udara.

AFP Fact Check sebelumnya pernah menulis tentang klaim efektifitas masker selama pandemi COVID-19 di sini.

Klaim: Menutup pantai akan menghalangi akses pada mikroba penyembuh di laut, pasir

“Mengapa harus menutup pantai?” Mikovits bertanya menjelang akhir video, menyinggung kebijakan pembatasan sosial yang diberlakukan sejumlah negara bagian di Amerika Serikat untuk membantu mencegah penyebaran COVID-19. “Ada sekuens di tanah, di pasir, ada mikroba penyembuh di laut, di air laut. Semua ini adalah kegilaan.”

Klaim tersebut salah.

Pantai ditutup untuk menjaga pembatasan sosial dan mencegah unit perawatan intensif rumah sakit menjadi kewalahan, dan sejauh ini aturan tersebut telah membuahkan hasil, kata Newland. “Jika ada banyak orang berdekatan di pantai-pantai ini, resikonya adalah orang-orang tersebut bisa menjadi sakit.”

Leibowitz mengatakan bahwa “meskipun benar bahwa spesies yang memproduksi antibiotik bisa diambil dari tanah, mengambil bakteri-bakteri ini tidaklah mudah,” dan menjelaskan bahwa laut juga memiliki spesies yang berhubungan dengan “flesh eating infections”, atau infeksi pemakan daging.  

Selama orang menjaga jarak pembatasan sosial di pantai, tambah Leibowitz, “pantai akan sama aman dan berbahayanya dengan saat sebelum COVID-19.”

Newland mengatakan bahwa meskipun pantai memiliki sifat menyembuhkan karena dapat membuat orang bahagia, “sekarang bukan waktunya.”

AFP Periksa Fakta telah meluruskan mitos-mitos seputar COVID-19. Daftar lengkapnya bisa dibaca di sini.

UPDATE: Artikel ini telah diperbarui pada tanggal 19 Mei 2020 sesuai permintaan 
Dr. Jason McLellan untuk mengubah komentarnya tentang penelitian vaksin flu.
VIRUS CORONA