
(AFP / Filippo Monteforte)
Informasi menyesatkan menyebut Italia menemukan bahwa COVID-19 disebabkan oleh bakteri, bisa disembuhkan dengan paracetamol
- Artikel ini berusia lebih dari setahun.
- Diterbitkan pada hari 09/06/2020 pukul 11:10
- Waktu baca 3 menit
- Oleh: AFP Filipina, AFP Indonesia
Hak Cipta © AFP 2017-2025. Segala jenis penggunaan konten secara komersial harus melalui langganan. Klik di sini untuk lebih lanjut.
Salah satu klaim tersebut telah dibagikan lebih dari 800 kali sejak diunggah di Facebook di sini tanggal 1 Juni 2020.
Unggahan itu berisi status yang panjang dan menyebut “Corona virus adalah BOHONG.”

Salah satu paragraf di status yang panjang itu tertulis:
“Catatan :
Bagikan ini ke seluruh keluarga, lingkungan, kenalan, teman, kolega, rekan kerja ... dll. dll ... dan lingkungannya secara umum ...:
“*Jika mereka terkena Covid-19 ... yang bukan Virus seperti yang mereka yakini, tetapi bakteri ... diperkuat dengan radiasi elektromagnetik 5G yang juga menghasilkan peradangan dan hipoksia.*
“Mereka akan melakukan hal berikut:
Mereka akan *minum *Aspirin 100mg dan Apronax atau Paracetamol*...‼️‼️”
Hingga tanggal 8 Juni 2020, penyakit virus corona baru, atau COVID-19, telah menelan hampir 400,000 korban jiwa di seluruh dunia dan tercatat ada lebih dari 6,9 juta kasus infeksi penyakit ini, menurut laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO) ini.
Italia sendiri mencatat hampir 34.000 angka kematian akibat COVID-19 dan hampir 235.000 kasus infeksi, menurut data WHO ini.
Klaim tersebut juga telah dibagikan lebih dari 400 kali sejak diunggah di sini, di sini dan di sini di Facebook; serta di sini di Twitter.
Klaim serupa dalam bahasa Tagalog tentang COVID-19 yang disebabkan oleh bakteri dibagikan lebih dari 4.300 kali setelah diunggah di sini, di sini dan di sini.
Namun semua klaim tersebut salah.
“Hal itu adalah hoaks,” seorang juru bicara Kementerian Kesehatan Italia mengatakan kepada AFP pada tanggal 3 Juni 2020.
Klaim-klaim itu juga telah diluruskan oleh sejumlah ahli kesehatan internasional.
Mitos tentang bakteri
Para ahli kesehatan telah menemukan bahwa COVID-19 disebabkan oleh salah satu strain virus corona – bukan bakteri. Wabah pertama penyakit itu terjadi di kota Wuhan, Tiongkok, di akhir tahun 2019 sebelum akhirnya menyebar ke seluruh dunia.
“Pada tanggal 7 Januari 2020, ilmuwan Tiongkok telah berhasil memisahkan sebuah virus corona baru (CoV) dari pasien di Wuhan,” tulis penelitian ini di jurnal The Lancet, salah satu jurnal ilmiah terkenal di dunia.
Pada tanggal 11 Februari 2020, Komite Internasional Tentang Taksonomi Virus (ICTV) menamakan virus baru itu “virus corona sindrom pernapasan akut berat 2 (severe acute respiratory syndrome coronavirus 2)”, atau SARS-CoV-2, dikarenakan hubungan genetika virus tersebut dengan virus yang menyebabkan wabah SARS di tahun 2003.
Saat COVID-19 mulai menyebar di seluruh dunia, para ilmuwan yang bekerja secara independen mulai mengisolasi virus baru itu. Lembaga kesehatan nasional di berbagai negara – misalnya di Amerika Serikat, Inggris, Filipina dan Indonesia – semuanya menyebut bahwa penyakit itu disebabkan virus. Penelitian pada pasien COVID-19 di beberapa negara seperti Australia, Italia, Malaysia, Nepal, Korea Selatan dan Prancis juga menemukan bahwa penyakit itu tidak disebabkan bakteri.
Hoaks tentang radiasi jaringan 5G
Klaim yang menyebut bahwa COVID-19 memiliki hubungan dengan teknologi jaringan 5G tidak didukung fakta ilmiah dan telah banyak diluruskan karena berisi teori konspirasi.
“Virus tidak dapat berpindah melalui gelombang radio / jaringan mobile,” WHO mengatakan pada laman ini yang secara khusus dibuat untuk meluruskan mitos-mitos tentang pandemi ini.
“COVID-19 menyebar melalui droplet (tetesan air liur) saat seseorang yang terinfeksi batuk, bersin atau berbicara.”
AFP sebelumnya telah memverifikasi klaim menyesatkan yang menghubungkan COVID-19 dan jaringan 5G, misalnya di sini, di sini dan di sini.
Klaim tentang obat COVID-19
Klaim yang menyebut pasien COVID-19 bisa disembuhkan dengan meminum paracetamol, aspirin dan obat pereda nyeri sejenisnya juga salah.
“(Paracetamol) meredakan nyeri, yang akan sangat berguna saat demam tinggi, namun obat itu tidak menyembuhkan (penyakit) virus corona,” Kementerian Kesehatan Italia mengatakan di website ini yang secara khusus dibuat untuk meluruskan hoaks-hoaks tentang COVID-19.
Sampai tanggal 8 Juni 2020, Kementerian Kesehatan Italia mengatakan di sini bahwa “belum ada obat secara khusus untuk penyakit yang disebabkan oleh virus corona baru itu. Perawatan secara umum tetap berdasarkan pendekatan simptomatik, dengan memberikan terapi pendukung (misalnya terapi oksigen, manajemen cairan) pada orang yang terinfeksi, yang bisa menjadi sangat efektif.”
WHO juga mengatakan di sini bahwa “saat ini belum ada obat yang ditunjuk untuk penanganan atau pencegahan COVID-19”.
Adakah konten yang Anda ingin AFP periksa faktanya?
Hubungi kami