Petugas medis melakukan pengetesan COVID-19 dengan cara lantatur, atau drive-thru, di Rumah Sakit Johns Hopkins di Baltimore, Maryland, pada tanggal 19 Maret 2020. (AFP / Jim Watson)

Informasi tentang virus corona yang dikaitkan dengan Universitas Johns Hopkins adalah hoaks

Sejumlah akun media sosial dan portal berita mengunggah informasi berisi poin-poin tentang virus corona baru dan informasi itu dikaitkan dengan Universitas Johns Hopkins,  salah satu sumber informasi utama tentang COVID-19. Namun program kedokteran universitas di Amerika Serikat itu membantah informasi tersebut berasal dari mereka; dan meskipun sebagian poin dalam unggahan akurat, pakar kesehatan mengatakan sebagian lainnya berisi klaim yang salah atau menyesatkan.

Informasi itu diunggah di Facebook di sini pada tanggal 28 Maret 2020, dan telah dibagikan lebih dari 140 kali.

Berikut tangkapan layar unggahan menyesatkan itu:

Tangkapan layar unggahan menyesatkan

Dua paragraf awal dalam unggahan itu tertulis: “Yang berikut ini diteruskan dari Irene Ken, dokter yang anak perempuannya seorang asisten profesor dalam bidang penyakit menular di John Hopkins University. Sangat informatif.

“Setelah pembicaraan kelompok di sini, mereka mengirim rangkuman ini, yang sangat bagus untuk mencegah penularan. Saya bagikan kepada anda karena isinya sangat jelas.”

Klaim yang sama juga dibagikan di sini, di sini dan di sini di Facebook; di sini dan di sini di Twitter; serta di sini di Instagram.

Sejumlah portal berita juga memuat informasi tersebut dengan kalimat yang persis sama, misalnya aktualnews.co.id dan tribunasia.com.

Informasi dengan klaim yang sama dalam bahasa Inggris telah dibagikan lebih dari 2.000 kali setelah diunggah di sini dan di sini. Poin-poin serupa juga muncul di Instagram di sini dan di sini

Universitas Johns Hopkins menyajikan data statistik tentang COVID-19 termasuk angka kematian, jumlah kasus dan informasi lain yang berguna baik bagi pembuat kebijakan maupun masyarakat umum. Dengan demikian, mengutip nama kampus ini bisa membuat informasi terlihat meyakinkan.

Namun Fakultas Kedokteran Universitas Johns Hopkins mengatakan lembaga itu tidak ada kaitannya dengan poin-poin dalam unggahan tersebut, dan mengatakan di Facebook bahwa “rumor dan misinformasi seperti ini dapat dengan mudah menyebar selama krisis”.

“Banyak rumor yang kami lihat mengutip ahli imunologi dan penyakit menular Universitas Johns Hopkins. Kami tidak tahu asal rumor-rumor ini dan semuanya kurang kredibilitas,” tulis lembaga itu. 

Seorang juru bicara Fakultas Kedokteran Universitas Johns Hopkins juga mengatakan “kami tidak punya informasi” apakah Irene Ken atau putrinya benar-benar ada. 

Beberapa poin dalam unggahan itu juga problematik. AFP menjabarkan poin-poin tersebut di bawah ini.

Virus ini mengubah sel menjadi ‘penyerang’ dan ‘pengganda’

Klaim: “Virus ini bukan suatu makhluk hidup, tetapi suatu molekul protein (DNA) yang tertutup oleh lapisan lemak pelindung, yang bila diserap oleh sel-sel lendir di mata, hidung atau rongga mulut, akan berubah struktur gen-nya (bermutasi), dan mengubahnya menjadi sel-sel penyerang dan pengganda.”

Menurut pakar, beberapa bagian dari penggambaran ini salah.

“Virus corona masuk sebagai molekul RNA yang tertutup lapisan lipid dan protein – poin pertama ini benar-benar omong kosong,” Dr. Benjamin Neuman, seorang pakar virus corona dan ketua Departemen Ilmu Biologi di Universitas Texas A&M-Texarcana, mengatakan kepada AFP melalui email.

“Tidak ada sel penyerang dan pengganda – saya bahkan tidak paham maksudnya,” katanya.

Dr. Julian Leibowitz, pakar virus corona yang juga profesor patogenesis mikroba dan imunologi di Fakultas Kedokteran Universitas Texas A&M, sependapat.

“Itu tidak benar dalam banyak hal. Virus tersebut termasuk virus RNA, tidak memiliki DNA, dan genom RNAnya terbungkus protein yang selanjutnya tertutupi lapisan lipid yang berisi beberapa jenis protein virus,” Leibowitz mengatakan melalui email.

“Ketika virus tersebut menginfeksi sel, RNA virus mengekspresikan gen-nya, namun tidak memutasikan gen host dan mengubahnya menjadi sel penyerang dan sel pengganda,” kata Leibowitz. 

 

Virus mati sendiri bergantung pada temperatur dan kelembaban

Klaim: “Karena virus ini bukan makhluk hidup, tetapi molekul protein, virus ini tidak dibunuh, tetapi membusuk dengan sendirinya. Waktu penguraiannya tergantung pada temperatur, kelembaban, dan jenis bahan apa yang ditempeli.”

Poin tersebut akurat, menurut dr. Wendy Keitel, profesor virologi molekuler dan mikrobiologi di Fakultas Kedokteran Universitas Baylor.

“Seperti disebutkan, hancurnya atau hilangnya kemampuan virus untuk menginfeksi bergantung pada temperatur, kelembaban dan jenis benda yang dihinggapinya,” Keitel mengatakan melalui email.

Virus ini rapuh, sehingga sabun atau deterjen adalah ‘obat terbaik’

Klaim: “Virus ini sangat rapuh, satu satunya yang melindungi adalah lapisan tipis lemak di bagian luar. Itu lah sebabnya sabun atau detergent apapun adalah obat penangkal yang paling bagus, karena busa menghilangkan lemak (itu lah sebabnya kita harus banyak menggosok selama 20 detik untuk membuat banyak busa). Dengan melarutkan lapisan lemak, molekul protein terurai sendiri.”

“Beberapa jenis virus sangat rapuh; beberapa jenis lainnya tidak rapuh sama sekali,” Keitel mengatakan, dan virus corona “lebih tidak stabil” dibanding cacar air misalnya.

“Sabun dan deterjen adalah cara efektif untuk membantu menghilangkan virus dari tangan,” kata Keitel, namun “meskipun deterjen diperlukan untuk menghilangkan kotoran dan bisa memiliki efek dalam inaktivasi virus, efek utamanya adalah gesekan (menggosok permukaan) dan membersihkan virus.”

Panas melelehkan lemak, sehingga air panas membantu melawan virus

Klaim: “Panas melelehkan lemak, jadi sangat bagus memakai air di atas suhu 25°C untuk mencuci tangan, baju dan apapun. Air panas juga membuat lebih banyak busa dan membuatnya lebih berguna.”

Poin ini menyesatkan; meskipun virus ini sensitif terhadap panas, Keitel mengatakan “temperatur yang cukup untuk menonaktifkan virus sepertinya akan terlalu panas untuk dipakai cuci tangan.”

“Tangan bisa dicuci dengan air hangat atau dingin asalkan menggunakan sabun dan durasi mencuci tangan mencapai kurang lebih 20 detik,” katanya.

Benjamin Neuman mengatakan “ada protein di virus corona yang berubah karena panas, namun virus ini terbiasa berkembang di paru-paru dan usus manusia, dan virus ini tetap stabil pada temperatur sedikit di atas 100 derajat Fahrenheit (sekitar 37,7 derajat Celcius).”

Neuman juga menjelaskan masalah pada poin tentang lemak virus yang meleleh akibat panas. 

“Ada lemak yang meleleh pada temperatur berbeda – misalnya, bakteri yang hidup di es metana dan bakteri yang hidup di lingkaran ... gunung api bawah laut keduanya memiliki membran yang terbuat dari molekul lipid (yang orang ini sebut sebagai lemak), namun semuanya memiliki titik leleh yang berbeda-beda,” kata Neuman.

Gunakan campuran alkohol di atas 65%

Klaim: “Alkohol atau campuran apapun dengan alkohol 65% akan melarutkan lemak apapun, terutama lapisan lemak luar virus ini.”

Ini “tidak terlalu jauh dari keadaan sebenarnya”, kata Neuman.

Keitel sepakat: “Alkohol dipercaya mampu menghancurkan protein virus dan mengganggu lapisan lipid (lemak) yang menjadi bagian pelindung virus.” 

Merekomendasikan campuran pemutih

Klaim: “Campuran 1 bagian larutan pemutih dengan 5 bagian air langsung memecah protein dan memecahnya dari dalam.”

Poin ini benar, namun takarannya berlebihan, menurut Neuman.

“Pemutih hipoklorit yang standar benar akan membunuh virus, namun bisa tetap bekerja dengan setengah dari takaran yang disebutkan,” katanya.

Manfaat air teroksidasi

Klaim: “Air yang teroksidasi bisa membantu tapi hanya setelah sabun, alkohol dan klorin dipakai, karena peroksida melarutkan lemak tapi kita harus memakainya dalam keadaan murni dan itu akan melukai kulit kita.”

Poin ini salah. 

“Jumlah oksigen yang dilarutkan dalam air sangat sedikit efeknya pada virus. Poin ini menyarankan produk kesehatan palsu untuk mengoksidasi air untuk manfaat kesehatan,” kata Neuman.

Leibowitz sependapat: “Air teroksidasi tidak menghasilkan hidrogen peroksida dan alkohol membunuh virus setelah kontak selama satu menit.”

Pembunuh bakteri tidak dapat membunuh virus corona

Klaim: “Tak ada pembunuh bakteri yang berfungsi. Virus bukan makhluk hidup seperti bakteri, apa yang tak hidup tak bisa dibunuh dengan antibiotik, hanya bisa diuraikan strukturnya dg cepat dengan bahan bahan yg sudah disebut di atas.”

Poin ini benar, kecuali produk tersebut juga dibuat untuk membunuh virus.

“Banyak produk yang dibuat sebagai antibakteri dan antivirus (menghancurkan keduanya, secara fisik), namun poin ini benar bahwa sebuah pembunuh bakteri tertentu tidak efektif membunuh virus corona,” menurut Neuman.

“Antibiotik umumnya tidak menonaktifkan virus; oleh karenanya pengobatan infeksi virus menggunakan obat antibiotik yang umum tidak akan menonaktifkan virus, dan hal tersebut bisa membawa efek samping yang berbahaya,” kata Keitel, dan menyebut “sejumlah bahan pembasmi kimiawi memiliki kerja baik antibakteri maupun antivirus.”

Jangan mengebutkan baju bekas pakai atau memakai kemoceng

Klaim: “Jangan mengebutkan baju, seprei atau kain baik yg sudah maupun yg belum dipakai. Meskipun virus ini melekat pada permukaan berpori, virus ini sangat tidak aktif dan terurai hanya dalam 3 jam (pada kain dan benda berpori), 4 jam (pada tembaga, krn bersifat antiseptik secara alamim (sic) dan pada kayu, karena kayu menghilangkan kelembaban dan menjaga agar virus tidak lepas dan mengurai), 24 jam pada karton, 42 jam pada logam, dan 72 jam pada plastik. Tapi kalau kita menggoyangkan atau mengebutkannya, atau memakai kemoceng, molekul virus akan mengapung di udara sampai selama 3 jam dan bisa menempel di hidung kita.”

Rekomendasi tersebut akurat jika benda yang dimaksud terkontaminasi virus.

“Rekomendasi kesehatan masyarakat yang ada adalah hindari menggoyang benda-benda terkontaminasi karena ada kemungkinan permukaan yang terkontaminasi dapat melepaskan bahan-bahan infeksius,” kata Keitel.

“Jika kemoceng tertutupi virus SARS-CoV-2 dalam jumlah besar, maka saya sepakat – jangan menggoyangnya. Jika tidak, tidak masalah membersihkan debu seperti biasa,” kata Neuman, menyebut nama resmi virus corona jenis baru.

Dan Leibowitz mengatakan angka-angka yang disebut pada poin ini “tidak benar”.

“Virus corona dapat bertahan selama kurang lebih 8 hari pada logam (baja) atau plastik keras pada suhu ruangan namun kemampuan bertahan hidupnya pada kardus, kertas atau kain menjadi lebih pendek dan kurang lebih 3 jam adalah waktu bertahan yang pernah saya lihat,” katanya.

Virus corona tetap stabil di udara dingin

Klaim: “Molekul virus tetap sangat stabil di dinginnya udara luar atau udara dingin tak alami seperti dari AC di rumah dan dalam mobil. Virus ini juga perlu kelembaban untuk tetap stabil dan terutama butuh keadaan gelap. Jadi lingkungan yang kering, tak lembab, hangat dan terang akan melenyapkan virus ini lebih cepat.”

Neuman mengatakan virus corona “tidak bekerja dengan baik di semua lingkungan yang disebutkan”. 

Virus corona “tetap stabil dalam freezer bersuhu -80 derajat Celcius, namun cenderung runtuh pada suhu yang lebih tinggi termasuk dalam freezer rumahan bersuhu -20 derajat Celcius,” katanya.

Dan menurut Leibowitz, “hubungan antara kelembaban dan kemampuan bertahan hidup virus menunjukkan bahwa virus menjadi kurang stabil pada kelembaban tinggi dan rendah, namun virus paling stabil pada kelembaban 20%, yang sebenarnya lumayan rendah. Suhu dingin meningkatkan waktu bertahan virus.”

Sinar UV dapat dipakai untuk mensterilkan masker

Klaim: “Sinar UltraViolet pada benda apa pun bisa memecahkan protein virus ini. Misalnya, untuk mensterilkan dan memakai kembali masker, cara ini bagus sekali. Hati2.. sinar UV juga memecahkan kolagen (kolagen juga protein) pada kulit dan bisa nantinya menyebabkan kerutan dan kanker kulit.”

Sinar ultraviolet (UV) dapat “menonaktifkan” virus, namun Keitel mengatakan masyarakat umum tidak dianjurkan menggunakan metode ini.

“Pada saat ini petugas non-medis tidak dianjurkan menggunakan sinar UV untuk menonaktifkan virus untuk tujuan mensterilkan masker. Masker kain harus sering dicuci pada air panas bersabun dan dikeringkan menggunakan pengering,” kata Keitel.

Tentang efek sinar UV pada virus, Neuman mengatakan sinar UV “mentautsilangkan nukleotida dalam RNA virus – sinar UV juga dapat merusak protein, tapi itu adalah mekanisme inaktivasi.”

Keitel mengatakan “sinar UV memiliki beberapa cara potensial menonaktifkan virus, termasuk memberi efek pada protein dan materi genetik.”

AFP Fact Check pernah mengulas topik sinar UV melawan virus corona di sini.

Virus corona tidak dapat menembus kulit sehat

Klaim: “Virus ini tidak bisa menembus kulit sehat.”

Hal ini “benar namun alasannya tidak tepat,” kata Neuman. “Tidak ada sel dengan kecocokan reseptor virus di kulit, sehat maupun tidak sehat, jadi virus tidak dapat menginfeksi.”

Keitel mengatakan bahwa “pada saat ini tidak ada bukti virus corona dapat menembus kulit sehat,” dan “perlu ada luka pada kulit untuk membuat banyak virus masuk ke tubuh melalui kulit.” 

 

Jangan gunakan cuka melawan virus

Klaim: “Cuka tidak berguna karena cuka tidak bisa memecah lapisan lemak pelindung virus.”

Benar bahwa cuka tidak direkomendasikan, namun ini semata karena tidak ada “data yang mendukung kalau cuka efektif melawan virus corona, dan cuka juga bisa merusak permukaan benda,” kata Keitel.

Alkohol dengan konsentrasi rendah tidak efektif

Klaim: “Tak ada minuman beralkohol atau Vodka yang berfungsi vodka yang paling keras mengandung paling banyak 40% alkohol dan kita butuh yang 65%.”

Ini “pada umumnya benar, namun ada sekurangnya satu vodka yang 96% etanol, dan ini boleh saja digunakan,” menurut Neuman.

“Menggunakan spiritus sebagai disinfektan tidak dianjurkan dan belum diteliti. Mengonsumsi alkohol untuk tujuan ini sangat tidak dianjurkan,” kata Keitel.

Listerin efektif melawan virus corona

Klaim: “Listerine akan berfungsi karena listerine berkadar alkohol 65%.”

Ini tidak benar: “Listerin hanya mengandung 27% etanol, dan tidak akan berfungsi,” kata Neuman.

“Pertama, listerin belum pernah diuji coba melawan virus corona. Kedua, tidak semua listerin mengandung alkohol. Ketiga, kandungan alkohol pada listerin tidak melebihi 20%, sangat jauh dari kadar yang dianjurkan untuk tujuan disinfektan,” kata Keitel.

Dan “listerin tidak menjangkau semua permukaan tempat virus berada (yakni, saluran hidung, saluran pernapasan bagian bawah),” katanya.

Konsentrasi virus lebih tinggi pada ruang tertutup

Klaim: “Makin tertutup suatu ruang, makin banyak virus terkonsentrasi di situ. Makin terbuka atau makin alami ventilasi ruangan, makin sedikit virus terkumpul di situ.”

“Ini benar, namun jarak antar orang lebih penting. Virus corona umumnya menyebar lewat percikan kecil (berdiameter sekitar 10 mikron) dari batuk atau bersin dan percikan ini berada di udara dalam waktu yang tidak lama dan umumnya jangkauannya kurang dari 6 kaki (182 cm),” kata Leibowitz.

Neuman mengatakan: “Ukuran ruang tidak begitu berpengaruh – namun lebih pada apakah virus ada di situ. Kebanyakan gedung memiliki penyaring udara jenis HEPA, yang didesain untuk menangkap partikel sebesar virus corona dan memisahkannya dari apa yang kita hirup.”

Cuci tangan

Klaim: “Hal ini sudah paling sering dikatakan, tapi kita tetap harus mencuci tangan sebelum dan setelah menyentuh lendir/mukus, makananm (sic) kunci2, kenop2, switch, remote control, hape, jam tangan, komputer, meja, TV dll.. juga setelah ke toilet/kamar mandi.”

Ini adalah “ide yang tidak berbahaya dan masuk akal,” kata Neuman, dan Keitel mengatakan direkomendasikan untuk mencuci tangan setelah menyentuh “permukaan yang kemungkinan terkontaminasi”. 

Lembabkan tangan

Klaim: “Kita harus melembabkan tangan yang kering karena terlalu sering cuci tangan karena molekul virus dapat bersembunyi dalam retakan retakan sangat kecil di kulit tangan. Makin kental pelembabnya, makin bagus.” 

Menurut Neuman: “Kamu tidak harus melembabkan tangan, tapi kamu bisa melakukannya jika mau. Hal ini tidak ada hubungannya dengan virus, dan tentu saja tidak melindungi dari virus seperti disebutkan di sini.”

Dan Leibowitz mengatakan: “Kamu boleh saja melembabkan tangan karena banyak mencuci tangan, namun virus tidak bersembunyi pada retakan kulit.”

Jaga agar kuku tetap pendek

Klaim: “Juga, jagalah agar kuku pendek sehingga virus tak bersembunyi di sela kuku.”

“Ini bukan permainan petak umpet – kamu tidak mungkin mendapatkan percikan pernapasan (respiratory droplets) di bawah kukumu, dan kalau pun kamu terkena percikan, virus tidak mungkin berjalan dari kuku ke membran mukosa,” kata Neuman.

Leibowitz sependapat dan mengatakan: “Virus ini menyebar lewat jalur pernapasan dan panjangnya kuku tidak ada hubungannya dengan hal ini.”