Polisi setempat menyebut berita itu hoaks dan ceritanya berasal dari berita lama

Sejumlah laporan media dan unggahan media sosial di bulan Maret 2020 mengklaim 59 jemaat gereja di Afrika Selatan tewas setelah meminum cairan Dettol atas rekomendasi seorang pendeta di gereja itu untuk mencegah penyakit virus corona baru, atau COVID-19. Walau berdasarkan kisah nyata, klaim tersebut salah – polisi Afrika Selatan membantah sedang melakukan penyelidikan atas kejadian itu.

Laporan itu diunggah di sini pada tanggal 25 Maret 2020 oleh radarsukabumi.com.

Laporan itu disertai gambar yang menunjukkan seorang pria sedang menuangkan cairan yang terlihat seperti Dettol ke mulut seorang wanita.

Berikut tangkapan layar laporan menyesatkan itu:

Image
Tangkapan layar laporan menyesatkan

Judul laporan itu adalah: “59 Jemaat Gereja Tewas Minum Dettol demi Cegah Corona.”

Dua paragraf awal dalam laporan itu tertulis: “Seorang pemuka agama di Afrika Selatan, Rufus Phala diduga memberi para anggotanya Dettol, sejenis antiseptic untuk obat luar.

“Mereka meminum Dettol sebagai obat pencegahan bagi virus corona atau Coronavirus dan juga sebagai tanda iman selama kebaktian gereja.”

Hingga tanggal 28 April 2020, penyakit virus corona baru, atau COVID-19, telah menewaskan lebih dari 200.000 orang di seluruh dunia dengan kasus infeksi hampir 3 juta orang, menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) ini.

Pada tanggal yang sama, jumlah kematian karena COVID-19 di Afrika Selatan mencapai 90 orang sedangkan hampir 4.800 orang terjangkiti virus corona. 

Klaim yang sama juga dimuat dalam laporan mimbarbangsa.co.id, mediabro.id, portal-islami.com dan acehherald.com.

Klaim itu juga disebar di Facebook di sini dan sini, di Twitter di sini dan sini, serta YouTube di sini

Klaim yang sama juga dimuat dalam laporan berbahasa Inggris, misalnya di sini, di sini dan di sini; serta dalam bahasa Malaysia di sini dan di sini

Pencarian gambar terbalik menemukan bahwa gambar yang menyertai berbagai laporan itu asli namun terkait dengan berita di Afrika Selatan (di sini dan di sini) pada bulan Desember 2016, tiga tahun sebelum mewabahnya virus corona baru.  

Image
Tangkapan layar laporan berita tahun 2016 dari Daily Sun (kiri) dan Eyewitness News (kanan) tentang seorang pendeta yang memberikan Dettol ke jemaatnya

Lebih lanjut, kedua berita itu tidak menyebut angka kematian seperti diklaim dalam laporan menyesatkan.

Dalam laporannya pada tanggal 9 Desember 2016, koran Daily Sun dari Afrika Selatan mengidentifikasi pria yang menganjurkan meminum cairan Dettol itu sebagai Rufus Phala, seorang “nabi” yang menganjurkan meminum cairan antiseptik untuk menyembuhkan penyakit yang mereka derita. 

Laporan tersebut mengutip Phala mengatakan: “Saya tahu Dettol berbahaya, tetapi Tuhan memerintahkan saya untuk menggunakannya. Saya adalah orang pertama yang meminumnya.” Artikel-artikel hoaks mengulangi kutipan ini.

Kegiatan Phala dikecam sebagai tindakan “tidak biasa” oleh departemen kesehatan negara itu dan meminta pemimpin gereja untuk melakukan penyelidikan.

Dettol Afrika Selatan juga merespon peristiwa itu pada saat itu, dan meminta agar produknya hanya digunakan untuk bagian luar tubuh serta memperingatkan meminum cairan bisa berbahaya.

“Kami telah menghubungi Nabi Rufus Phala dan memintanya menghentikan praktik tersebut,” tulis Dettol dalam pernyataannya.

AFP tidak dapat memverifikasi apakah botol yang Phala berikan kepada jemaatnya murni berisi cairan Dettol.

Menjawab pertanyaan AFP, juru bicara polisi Afsel Brigadir Vishnu Naidoo menyebut bahwa klaim belakangan ini adalah salah dan membantah pihaknya sedang melakukan penyelidikan atas tewasnya 59 orang yang dikaitkan dengan konsumsi cairan Dettol.

Adakah konten yang Anda ingin AFP periksa faktanya?

Hubungi kami