
Unggahan media sosial membuat klaim salah bahwa AS menangkap ilmuwan Harvard yang menjual virus corona ke Tiongkok
- Artikel ini berusia lebih dari setahun.
- Diterbitkan pada hari 15/04/2020 pukul 12:50
- Diperbarui pada hari 02/09/2020 pukul 18:39
- Waktu baca 3 menit
- Oleh: Charlotte MASON, Louis BAUDOIN-LAARMAN, AFP Indonesia
Hak Cipta © AFP 2017-2025. Segala jenis penggunaan konten secara komersial harus melalui langganan. Klik di sini untuk lebih lanjut.
Postingan di Twitter ini telah dibagikan lebih dari 200 kali sejak diunggah tanggal 7 April 2020.
Cuitan itu membagikan cuitan lainnya dalam bahasa Inggris tertanggal 5 April 2020, yang berisi video berdurasi 1 menit 48 detik dan telah ditonton setidaknya 1.8 juta kali.
Berikut tangkapan layar unggahan menyesatkan itu:

Cuitan berbahasa Indonesia itu tertulis: “Ada perkembangan baru, AS baru saja menangkap dr.Charles Lieber yang produksi virus corona untuk di jual di China. Hukuman mati tidak cukup untuk manusia jahat ini”.
Sedangkan cuitan berbahasa Inggris berisi pesan yang mirip namun dengan tambahan posisi Charles Lieber sebagai “kepala departemen kimia dan biologi Universitas Harvard.”
Menurut profil dirinya di website Universitas Harvard di sini, Charles M. Lieber adalah seorang profesor di Departemen Kimia dan Biokimia di kampus tersebut.
Klip video itu memperlihatkan petugas penegak hukum Amerika Serikat dalam sebuah konferensi pers.
“Kami di sini hari ini dalam rangka mengumumkan tiga kasus berbeda yang menggarisbawahi ancaman spionase ekonomi dan pencurian riset Tiongkok,” kata salah seorang pria di video tersebut.
Virus corona jenis baru, atau COVID-19, telah positif menginfeksi lebih dari 1.8 juta orang di seluruh dunia dan membunuh lebih dari 117.000 orang sejak kasus pertama penyakit mematikan itu ditemukan di Tiongkok di akhir tahun 2019, menurut data Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada tanggal 15 April ini.
Potongan video yang sama juga dibagikan di sini dengan klaim yang sama.
Klaim menyesatkan itu juga dibagikan di Facebook di sini dan di sini tanpa video.
Video yang mirip, menampilkan dua orang petugas penegak hukum memberikan keterangan pers yang sama, juga dibagikan di sini dalam bahasa Inggris dengan klaim Amerika Serikat menangkap ilmuwan Tiongkok yang “membuat” virus corona.
Semua klaim tersebut salah; tayangan di video tidak ada hubungannya dengan COVID-19 dan para ilmuwan membantah bahwa virus corona jenis baru dibuat oleh manusia.
Pencarian gambar terbalik menggunakan tangkapan layar yang dibuat dengan InVID-WeVerify menemukan versi asli video itu sebelumnya telah diunggah di YouTube di sini oleh stasiun TV WCVB Channel 5 di Boston pada tanggal 28 Januari 2020.
Diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, judul unggahan itu berbunyi: “Kepala departemen Harvard ditangkap dengan tuduhan menyembunyikan hubungan dengan Tiongkok”.
Ilmuwan yang ditangkap
Konferensi pers tentang penangkapan ilmuwan Harvard itu juga dilaporkan oleh harian The Boston Globe ini pada tanggal 28 Januari 2020.
Dalam konferensi pers itu, jaksa Andrew Lelling dari Massachusetts dan kepala FBI Boston, Joseph Bonavolonta, mengumumkan penangkapan seorang ilmuwan Harvard dan dua orang berkebangsaan Tiongkok karena dugaan menyembunyikan hubungan mereka dengan Tiongkok.
AFP melaporkan bahwa jaksa penuntut menjerat kepala departemen kimia dan biokimia Universitas Harvard, Charles Lieber, dengan tuduhan menyembunyikan keterlibatannya dalam sebuah program pemerintah Tiongkok yang oleh otoritas keamanan disebut mencuri rahasia perdagangan.
Dua ilmuwan lainnya, keduanya berkewarganegaraan Tiongkok, juga dijerat hukum sebagai bagian penyidikan atas ratusan kasus pencurian yang diduga dilakukan oleh ilmuwan Tiongkok di Amerika Serikat.
Tidak sekalipun konferensi pers itu menyebut soal wabah virus corona.
Bukan buatan manusia
Para ahli telah membantah teori yang menyebut virus corona jenis baru secara sengaja dibuat manusia. Dalam surat yang diterbitkan dalam media jurnal The Lancet, berbagai ilmuwan kesehatan masyarakat mengatakan virus tersebut “berasal dari alam”.
“Kami bersama-sama mengutuk secara tegas teori konspirasi yang menyebut COVID-19 bukan berasal dari alam. Para ilmuwan dari berbagai negara ... telah banyak menyimpulkan bahwa virus corona ini berasal dari alam, sebagaimana patogen lainnya,” tulis surat tersebut.
Para ilmuwan dari Ohio State University di Amerika Serikat juga menerbitkan laporan ilmiah dengan kesimpulan “tidak ada bukti kredibel” bahwa virus corona jenis baru diciptakan di laboratorium.
Adakah konten yang Anda ingin AFP periksa faktanya?
Hubungi kami