Seorang pekerja kesehatan memberikan suntikan vaksin Covid-19 Sinovac saat vaksinasi massal di Surabaya pada tanggal 6 Juni 2021. (AFP / Juni Kriswanto)

Vaksin Covid-19 tidak mengandung microchip magnetik

Hak cipta AFP 2017-2021. Hak cipta dilindungi undang-undang.

Berbagai postingan media sosial membagikan video yang memperlihatkan logam seakan dapat menempel pada lengan orang yang telah divaksinasi dan diklaim sebagai bukti lengan orang yang mendapat vaksin Covid-19 memiliki daya magnet. Namun, klaim ini adalah hoaks. Unggahan-unggahan tersebut merupakan teori konspirasi microchip mutakhir yang disebarkan para individu maupun kelompok dan dapat berdampak membuat orang lebih enggan untuk divaksin.

Video ini, yang diunggah di Instagram pada tanggal 27 Mei 2021, telah ditonton lebih dari 19.000 kali sebelum dihapus. 

Tangkapan layar unggahan menyesatkan, diambil pada tanggal 5 Juni 2021

Video ini memperlihatkan seorang pria menunjukkan sekeping uang logam 1.000 rupiah yang menempel pada lengan kanannya di mana ia katakan bekas disuntik. Ia kemudian berkata: “Ternyata benar, ada daya tarik pada saat mendekat ke tubuh kita.”

Keterangan unggahan itu berbunyi: “Postingan ke 2 mengenai uang logam rp. 1000 yang menempel di tempat bekas penyuntikan vaksin …”

Video dengan klaim serupa telah ditonton lebih daripada 212.000 kali setelah muncul di Instagram di sini dan di sini; Twitter di sini, di sini, dan di sini; dan di YouTube di sini.  

Lebih dari 17,5 juta orang telah menerima setidaknya satu dosis vaksin Covid-19 di Indonesia, di antaranya hampir 12 juta orang telah menerima dua dosis lengkap, menurut data resmi pemerintah pada tanggal 7 Juni 2021. 

Klaim serupa juga muncul dalam bahasa Inggris dan bahasa Serbia

Akan tetapi, para pakar medis mengatakan video ini tak lebih dari teori konspirasi yang digunakan untuk menyebar disinformasi perihal coronavirus.

“Mendapatkan vaksin Covid-19 tidak dapat membuat lengan Anda menjadi magnetik. Sederhana saja, ini adalah hoaks,” kata Dr Stephen Schrantz, spesialis penyakit menular di University of Chicago Medicine.

“Tentu tidak mungkin sebuah vaksin dapat mengakibatkan reaksi yang diperlihatkan pada video-video yang diunggah ke Instagram dan/atau YouTube. Itu lebih baik dijelaskan oleh perekat dua sisi pada kepingan metal yang dilekatkan pada kulit daripada reaksi magnetik,” tambahnya. 

Penulis sains Mick West mengunggah sebuah video di Metabunk.org, situs khusus membongkar pseudosains, dan menyebut klaim-klaim tersebut “pelintiran baru dari trik sirkus lama”. Ia memperagakan bahwa magnet, koin, atau objek-objek berpermukaan mulus lainnya akan menempel pada berbagai anggota tubuh, termasuk hidung, jika kulit seseorang sedikit berminyak. “Hilangkan minyaknya dan benda tersebut tidak akan lengket,” jelasnya.

Ditanya tentang klaim tersebut, Dr Thomas Hope, peneliti vaksin dan profesor sel dan biologi perkembangan di Northwestern University Feinberg School of Medicine, di AS, berkata: “Ini tidak mungkin. (Vaksin mengandung) protein dan lemak, garam, air, dan bahan-bahan kimia yang mempertahankan pH, tak ada yang memungkinkan magnet untuk berinteraksi. Pada dasarnya demikian, jadi ini tidak mungkin.”

“Anda perlu menaruh sepotong logam yang cukup besar di bawah kulit Anda untuk membuat magnet kulkas untuk menempel,” ujar Hope. “Anda tidak dapat menaruh metal atau besi dalam jumlah cukup di dalam jarum dan menusuknya ke dalam kulit untuk mendapatkan reaksi seperti itu.” 

Dalam rilis Kementerian Kesehatan pada tanggal 28 Mei 2021, Prof Dr Sri Rezeki Hadinegoro, ketua Indonesia Technical Advisory Group on Immunization, menjelaskan lubang jarum suntik sangat kecil dan tak ada partikel magnetik yang bisa melewati. 

“Vaksin berisi protein, garam, lipid, pelarut, dan tidak mengandung logam. Jadi, perlu dijelaskan bahwa berita itu hoaks,” kata beliau. 

AFP sebelumnya telah membongkar berbagai klaim salah mengenai implan microchip ditanamkan melalui vaksin Covid-19. 

Terjemahan dan adaptasi
COVID-19 VAKSIN