Misinformasi terkait mRNA kembali beredar menyusul peluncuran prototipe vaksin DBD

Menyusul keberhasilan Universitas Indonesia dan Tsinghua University dalam mengembangkan prototipe vaksin untuk melawan demam berdarah dengue (DBD), beredar klaim bahwa vaksin messenger RNA (mRNA) dapat mengubah DNA dan dikontrol kecerdasan buatan (AI). Teori konspirasi seperti ini sering muncul di era pandemi Covid-19. Namun, para ahli telah membantah hal ini dan Kementerian Kesehatan juga telah mengatakan kepada AFP bahwa peran AI dalam pengembangan vaksin tersebut terletak pada kemampuannya untuk memprediksi mutasi virus di masa depan, bukan sebagai bagian komponen di dalam vaksin.

"Indonesia Meluncurkan Prototipe Vaksin DBD Berbasis Teknologi MRNA yg akan dikontrol A.I (Artificial Intelligence) dan akan merubah DNA ILAHI Hilang Dari Fitrah-NYA serta terputusnya signal spirituality ke Sang Pencipta," tulis sebagian keterangan dari postingan Instagram yang diunggah pada 14 Juli 2026.

"Tujuan Vaxx yaitu shrinking population," lanjut keterangan postingan.

Unggahan tersebut, yang telah dilihat lebih dari 16.000 kali, membagikan sejumlah klip dengan narasi anti vaksin yang dikemukakan oleh tokoh-tokoh seperti mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari dan politisi Dharma Pongrekun, yang sebelumnya menyebarkan misinformasi terkait hantavirus yang telah disanggah oleh AFP.

"Kesehatan itu menjadi suatu alat yang sangat mudah untuk menundukkan bangsa-bangsa di dunia ini," kata Siti dalam klip tersebut. 

"Contohnya, kita semua sudah merasakan yang namanya COVID. Bagaimana orang sedunia bisa dibohongin tentang COVID? Bagaimana seluruh dunia bisa divaksin tanpa tahu apa yang dimasukkan ke tubuhnya?"

Keterangan postingan kemudian menuliskan teori konspirasi lainnya yang sebelumnya juga telah dibantah oleh AFP, terkait rencana pemerintah untuk melepaskan nyamuk Wolbachia agar membantu mengurangi penyebaran virus demam berdarah.

Image
Tangkapan layar video di postingan salah yang diambil pada 28 Juli 2026 dengan tanda silang merah yang ditambahkan oleh AFP

Klaim serupa juga beredar luas di Facebook.

Bersama dengan Tsinghua University, Universitas Indonesia berhasil mengembangkan prototipe vaksin dengue berbasis mRNA pada 8 Juli, di mana prototipe tersebut berpotensi menjadi vaksin berbasis mRNA pertama di dunia untuk melawan DBD yang mencapai tahap pengembangan prototipe dan uji praklinis (tautan arsip).

Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan Indonesia mencatat sekitar 151.000 kasus dengue setiap tahunnya -- menjadikan penyakit tersebut masuk ke dalam daftar penyakit dengan angka beban tertinggi bersama tuberkulosis, HIV dan malaria (tautan arsip).

Jumlah kasus dengue, yang menular melalui gigitan dari nyamuk yang terinfeksi dan menyebabkan gejala seperti flu parah, telah meningkat secara global, dipicu oleh naiknya suhu dunia dan makin banyaknya kota-kota yang berpenduduk padat (tautan arsip).

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), hampir setengah populasi dunia berisiko terkena dengue, dengan estimasi 100 hingga 400 juta infeksi setiap tahunnya. 

Image
Fakta singkat tentang virus dengue yang ditularkan oleh nyamuk (AFP / John SAEKI)

Walupun saat ini vaksin dengue telah tersedia, vaksin berbasis mRNA memungkinkan peningkatan produksi dalam skala besar secara lebih cepat karena tidak memerlukan pengembangbiakan virus dalam laboratorium. Vaksin berbasis mRNA juga umumnya lebih aman dibandingkan vaksin tradisional karena tidak mengandung patogen hidup (tautan arsip).

Namun, mRNA seringkali menjadi sasaran empuk sejumlah teori konspirasi sejak pandemi Covid-19 melanda, di mana vaksin dengan teknologi tersebut diklaim dapat menyebabkan kanker atau mengubah DNA penerima

Klaim terbaru yang beredar di media sosial tanah air juga membagikan narasi salah yang serupa.

"Vaksin mRNA tidak dapat mengubah DNA manusia dan tidak dikontrol oleh AI," ujar juru bicara kementerian kesehatan kepada AFP pada 27 Juli.

"Komponen mRNA hanya membawa instruksi sementara untuk membentuk respons kekebalan dan kemudian terurai secara alami".

Cara mRNA bekerja

Terdapat dua jenis vaksin yang mengandung virus hidup yang dilemahkan yang disetujui untuk mengatasi dengue di Indonesia: Qdenga dan Dengvaxia (tautan arsip).

Menurut WHO, vaksin Qdenga direkomendasikan untuk pasien berusia enam hinggan 16 tahun yang tinggal dengan risiko penularan tinggi yang sebelumnya tidak terinfeksi virus (tautan arsip). Sementara vaksin Dengvaxia sendiri telah berhenti diproduksi (tautan arsip).

Tidak seperti kedua vaksin tersebut, yang mengandung virus yang dilemahkan untuk melatih sistem kekebalan tubuh, vaksin mRNA mengandung material genetik yang memerintah sel manusia untuk membuat protein yang sesuai dengan protein yang menjadi target dari patogen (tautan arsip).

Pfizer-BioNTech dan Moderna menggunakan teknologi tersebut dalam vaksin Covid-19 yang mereka produksi selama pandemi.

Image
Bagaimana vaksin buatan Pfizer-BioNTech memanfaatkan informasi genetik dari SARS-CoV-2 untuk menstimulasi respons kekebalan tubuh manusia (AFP / John SAEKI, Laurence CHU)

Membantah klaim yang beredar daring, Thomas Preiss, profesor di John Curtin School of Medical Research di Australian National University, mengatakan bahwa vaksin mRNA "tidak bertahan lama di dalam tubuh" (tautan arsip).

"Ketika disuntikkan ke dalam tubuh manusia, mRNA masuk ke dalam sel yang berada di dekat lokasi penyuntikkan, dan sel-sel ini kemudian menghasilkan sejumlah kecil protein yang menyerupai bagian dari patogen yang Anda targetkan untuk membuat perlindungan terhadapnya," ungkapnya kepada AFP dalam surel pada 28 Juli.

"Sistem kekebalan tubuh mendeteksi hal ini dan lalu memproduksi respons kekebalan yang bertahan lama seperti jenis vaksin lainnya. Jadi, saat vaksin mRNA telah hilang, sistem imun pada sel akan 'mengingat' bagaimana cara merespons jika patogen asli masuk ke dalam tubuh".

Produsen vaksin tengah mengembangkan vaksin mRNA untuk melawan sejumlah penyakit seperti influenza dan HIV (tautan arsip). 

'Tidak logis'

Preiss mengatakan "tidak ada alasan yang logis maupun bukti ilmiah kredibel" yang menyatakan bahwa prototipe vaksin mRNA buatan Indonesia dapat "mengubah sel DNA" -- pandangan yang juga diamini oleh para ahli lainnya yang dihubungi oleh AFP.

Lukas Gerstweiler, dosen senior di Fakultas Teknik Kimia di Adelaide University, mengatakan mRNA tidak memiliki enzim khusus yang dibutuhkan untuk menyalin RNA menjadi DNA dan memasukannya ke dalam kromosom (tautan arsip).

"Sehingga, vaksin mRNA tidak dapat mengubah DNA manusia seperti yang diklaim dalam postingan media sosial yang beredar," Gerstweiler mengatakan kepada AFP pada 27 Juli. 

Image
Seorang peneliti melarutkan messenger RNA (mRNA) di laboratorium Inserm ART-RNAm di CHR (Pusat Rumah Sakit Regional) Orleans, Prancis tengah, pada 18 November 2025 (AFP / JEAN-FRANCOIS MONIER)

Mitch Ganley, seorang peneliti di Departemen Mikrobiologi dan Imunologi di University of Melbourne, menambahkan bahwa mRNA merupakan molekul umum yang "ditemukan hampir di setiap sel di dalam tubuh dan berperan penting agar tubuh dapat berfungsi" (tautan arsip).

"Vaksin mRNA tidak lebih mungkin mengubah DNA dari orang yang menerimanya dibandingkan RNA milik tubuh orang itu sendiri, yang [jumlahnya] jauh lebih umum dan melimpah," katanya pada 27 Juli.

Kementerian Kesehatan mengatakan kepada AFP bahwa vaksin dengue masih berada dalam tahap pengembangan, dan "tentunya harus melalui rangkaian tahapan penelitian praklinis, uji klinis, serta evaluasi yang sangat ketat yang diawasi oleh BPOM, Kementerian Kesehatan, Komite Etik, dan otoritas terkait" sebelum akhirnya disepakati untuk penggunaan publik secara luas.

AFP selama beberapa tahun telah menyanggah klaim yang menyebutkan bahwa vaksin mRNA dapat mengubah DNA manusia.

Peran AI dalam memprediksi mutasi

Gerstweiler dari Adelaide University juga mengatakan AI tidak dapat mengontrol sebuah vaksin mRNA, karena hanya mengandung molekul biologis seperti mRNA, lipid dan sejumlah kandungan lainnya (tautan arsip).

"Vaksin tidak mengandung prosesor komputer, perangkat lunak, alat komunikasi, sensor, ataupun sumber energi. Vaksin tidak dapat menerima instruksi, mengawasi sesorang, atau membuat keputusan di dalam tubuh," ungkapnya.

"Menyebut sebuah vaksin 'dapat dikontrol oleh AI' mengaburkan penggunaan AI dalam pemodelan dengan properti fisik dari vaksin yang telah selesai dibuat".

Kementerian Kesehatan mengonfirmasi bahwa AI tidak menjadi komponen dalam prototipe vaksin dengue yang dikembangkan.

"Penggunaan AI pada vaksin DBD adalah untuk untuk memprediksi kemungkinan perubahan atau potensi mutasi virus pada masa mendatang," ungkap juru bicara kementerian. 

"Harapannya dengan pemodelan AI, vaksin DBD ini memiliki profil yang tidak hanya efektif terhadap strain yang beredar saat ini, tetapi juga memiliki potensi memberikan perlindungan terhadap strain dengue yang mungkin muncul di masa depan".

Adakah konten yang Anda ingin AFP periksa faktanya?

Hubungi kami