Keluarga muslim Indonesia salat pada malam pertama bulan suci Ramadan pada tanggal 23 April 2020 di teras rumah mereka di Yogyakarta untuk menjaga jarak sosial di tengah kekuatiran pandemi COVID-19. (AFP / Agung Supriyanto)

Pandemi virus corona baru memicu hoaks bertema agama di media sosial

Penyebaran virus corona baru telah memicu banyaknya misinformasi di media sosial di seluruh dunia. Mitos yang beredar secara online termasuk metode penyembuhan COVID-19 yang tidak masuk akal dan teori konspirasi tentang asal-usulnya. Di dunia Islam, pemeriksa fakta juga mengamati tren unggahan di media sosial yang memuat klaim menyesatkan bertema agama tentang virus tersebut. Sampai bulan April 2020, AFP telah membantah sejumlah unggahan yang menyesatkan mengenai topik ini. 

Klaim palsu bertema agama sebagian besar terfokus pada negara-negara yang paling terdampak oleh penyakit virus corona baru, atau COVID-19, seperti Tiongkok, Amerika Serikat, Italia dan Spanyol.

Klaim-klaim tersebut telah muncul tak hanya di negara-negara mayoritas muslim seperti Indonesia, Malaysia dan di Timur Tengah dan Afrika Utara, tapi juga di negara lain dengan populasi Muslim yang cukup besar seperti India, Singapura dan Thailand.

– Indonesia –

Pengguna media sosial di Indonesia dan beberapa blog telah membagikan klaim bahwa air wudhu dapat membunuh virus corona baru. Para ahli kesehatan membantah hal tersebut dan memperingatkan bahwa air saja tidak cukup untuk membunuh virus. Mereka juga merekomendasikan untuk mencuci tangan dengan air dan sabun untuk perlindungan yang efektif.

– Tiongkok –

Sebuah video yang memperlihatkan Presiden Tiongkok Xi Jinping mengunjungi masjid telah dibagikan di India dengan klaim dia meminta umat Islam untuk berdoa bagi Tiongkok karena negara itu tengah menghadapi epidemi virus corona. Akan tetapi, rekaman video itu sebenarnya menunjukkan Presiden Xi mengunjungi sebuah masjid di barat laut Tiongkok pada tahun 2016, bertahun-tahun sebelum virus corona jenis baru pertama kali diidentifikasi pada bulan Desember 2019 di Wuhan, Tiongkok.

Berikut video asli dari CCTV, media pemerintah Tiongkok:

Video dan klaim menyesatkan itu dibagikan tidak hanya di India, tetapi juga di Indonesia, Malaysia dan media sosial berbahasa Arab

-------------------------------------------------------------------------------------------------

Video lain telah beredar di media sosial India dengan klaim bahwa klip itu menunjukkan perdana menteri Tiongkok berdoa di dalam masjid setelah wabah COVID-19. Namun, video itu telah beredar di tahun 2004, dan sebenarnya memperlihatkan Perdana Menteri Malaysia Abdullah Badawi salat Jumat di masjid di Beijing selama kunjungannya ke Tiongkok.

-------------------------------------------------------------------------------------------------

Sebuah video yang dimaksudkan untuk menunjukkan orang-orang Tionghoa masuk Islam karena virus corona “tidak mempengaruhi umat Islam” mulai dibagikan pada bulan Februari 2020 dalam berbagai bahasa – bahasa Indonesia, bahasa Malaysia, bahasa Thai, bahasa Inggris dan bahasa Prancis. Namun, klip itu sebenarnya memperlihatkan orang-orang berbahasa Tagalog yang masuk Islam di Arab Saudi pada bulan Mei 2019 – beberapa bulan sebelum wabah virus corona pertama kali muncul di Tiongkok.

Dibawah ini adalah video asli tersebut:

 

Berikut perbandingan tangkapan layar antara video pindah agama di unggahan menyesatkan (kiri) dan video asli di Facebook (kanan): 

Image
Perbandingan tangkapan layar antara video pindah agama di unggahan menyesatkan (kiri) dan video asli di Facebook (kanan)

-------------------------------------------------------------------------------------------------

Sebuah video yang memperlihatkan orang-orang Tionghoa non-Muslim salat Jumat supaya mereka tidak terinfeksi virus corona telah ditonton jutaan kali di berbagai platform media sosial. Faktanya, klip itu menunjukkan orang-orang yang sedang salat Idul Fitri pada bulan Juni 2019 di Yiwu, sebuah kota di Tiongkok yang banyak didatangi para pedagang muslim dari luar negeri.

Berikut video asli yang diunggah oleh pengguna Facebook Mak Mohamed pada tanggal 5 Juni 2019:

-------------------------------------------------------------------------------------------------

Video lain dipakai untuk mengklaim bahwa salat Jumat tetap bisa dilaksanakan oleh para muslim di Tiongkok meskipun ada pandemi virus corona. Namun, video itu telah beredar secara online sejak tahun 2011 dan memperlihatkan umat Islam salat berjamaah di bulan Ramadan di kota Xining, Tiongkok bagian barat. 

Dibawah ini adalah video asli yang diunggah di YouTube:

-------------------------------------------------------------------------------------------------

Sebuah video telah dibagikan secara online di Singapura, Malaysia serta di media sosial berbahasa Arab dengan klaim bahwa klip tersebut menunjukkan orang-orang Tionghoa menerima Alquran setelah negara itu mencabut “larangan” terhadap kitab suci Islam tersebut setelah penyebaran wabah COVID-19. Video itu sebenarnya klip lama yang telah beredar setidaknya sejak tahun 2013 di berbagai laporan tentang Alkitab yang didistribusikan kepada orang-orang di Tiongkok.

– Amerika Serikat –

Sebuah video yang menunjukkan muslim yang sedang salat di jalan telah dibagikan di media sosial Indonesia dengan klaim yang menyatakan klip itu memperlihatkan muslim di AS salat berjamaah selama pandemi COVID-19. Faktanya, video aslinya telah beredar sejak bulan Februari 2017 dan memperlihatkan muslim di Kota New York salat saat melakukan aksi protes atas larangan pendatang muslim yang diterapkan Presiden Donald Trump.

-------------------------------------------------------------------------------------------------

Sebuah video telah digunakan untuk mengklaim bahwa pembacaan Alquran dilakukan untuk membuka pertemuan Senat AS yang dihadiri oleh Presiden Trump selama pandemi COVID-19. Akan tetapi, video itu sebenarnya memperlihatkan layanan doa lintas agama di sebuah gereja di Washington, DC, yang dihadiri Trump sehari setelah dia dilantik sebagai presiden pada bulan Januari 2017.

Berikut video asli dari ABC News, media berbasis di AS:

-------------------------------------------------------------------------------------------------

Berbagai unggahan media sosial mengunggah sebuah video dengan klaim yang bahwa klip tersebut memperlihatkan FBI menggerebek sinagoge yang digunakan untuk menimbun masker dan peralatan medis saat pandemi. Akan tetapi, penggerebekan itu sebenarnya dilakukan di sebuah rumah pribadi yang terletak di Kota New York. 

– Spanyol –

Sebuah video muncul di Facebook, YouTube and Twitter dengan klaim yang menyatakan klip tersebut menunjukkan azan yang terdengar untuk pertama kalinya dalam 500 tahun di Spanyol, saat negara itu terdampak pandemi COVID-19. Klaim itu muncul di unggahan berbahasa Indonesia, Malaysia, Inggris dan bahasa Arab. Akan tetapi, video itu direkam di Azerbaijan pada bulan November 2019 dan tidak ada larangan azan di Spanyol dalam beberapa waktu terakhir. 

– Italia –

Sebuah video yang menunjukkan orang-orang melakukan doa bersama di luar ruangan telah dibagikan di media sosial berbahasa Indonesia dan Cina dengan klaim bahwa klip itu menunjukkan orang Italia yang sedang berdoa selama pandemi virus corona. Rekaman video itu sebenarnya menunjukkan acara doa bersama di Peru pada awal Desember 2019, beberapa minggu sebelum virus itu teridentifikasi di Wuhan, Tiongkok.

Dibawah ini adalah video yang disiarkan langsung di Facebook oleh pengguna Facebook bernama Alejandro Munante: 

-------------------------------------------------------------------------------------------------

Foto-foto yang menunjukkan peti jenazah korban virus corona di Italia telah dibagikan di antara komunitas Kristen di Indonesia. Namun, foto-foto itu sebenarnya menunjukkan peti jenazah korban gempa di kota L’Aquila, Italia di tahun 2009 dan peti jenazah korban kecelakaan kapal di dekat pulau Lampedusa, Italia pada tahun 2013.

Berikut perbandingan tangkapan layar antara foto peti jenazah di unggahan menyesatkan (kiri) dan foto asli korban gempa bumi (kanan):

Image
Perbandingan tangkapan layar antara foto peti jenazah di unggahan menyesatkan (kiri) dan foto asli korban gempa bumi (kanan)

-------------------------------------------------------------------------------------------------

Rekaman video yang memperlihatkan sekumpulan orang meneriakkan “Allahu Akbar” telah digunakan untuk mengklaim kejadian tersebut terjadi di Italia saat pandemi COVID-19. Hal itu tidaklah benar karena video tersebut direkam di Hamburg, Jerman, saat aksi protes pada bulan Januari 2020 untuk menentang persekusi muslim Uighur di Tiongkok. 

– Selandia Baru –

Video konser paduan suara telah dibagikan dengan klaim bahwa itu adalah video musisi dari berbagai latar belakang agama melafalkan 99 nama Allah di sebuah konser di Selandia Baru selama pandemi COVID-19. Akan tetapi, video itu sebenarnya memperlihatkan paduan suara dari Bosnia dan Herzegovina yang tampil di Istanbul, Turki, pada tahun 2011. 

Dibawah ini adalah video asli dari TRT, radio dan stasiun TV Turki:

– Mesir –

Foto seorang dokter Mesir telah dibagikan dalam berbagai artikel dan postingan blog yang menyatakan bahwa ia telah menemukan vaksin virus corona baru. Klaim itu menyesatkan sebab dokter Mesir yang bernama Dr Ali Mohamed Zaki, mengidentifikasi jenis virus corona yang menyebabkan Sindrom Pernafasan Timur Tengah (MERS) pada tahun 2012, dan dia juga tidak menciptakan vaksin virus tersebut.

– Singapura –

Rekaman video orang-orang sedang mengantri di Mustafa Centre, sebuah pusat perbelanjaan di Little India di Singapura, dibagikan di media sosial di Thailand dan Indonesia, dengan klaim klip itu menunjukkan orang-orang yang antri untuk membeli makanan halal setelah wabah COVID-19 karena “mereka tidak berani makan makanan non-halal lagi”. Video itu sebenarnya menunjukkan orang-orang yang sedang mengantri untuk membeli masker.

Daftar unggahan menyesatkan yang terkait dengan Islam dalam bahasa Arab bisa dibaca di sini.

Adakah konten yang Anda ingin AFP periksa faktanya?

Hubungi kami